Senin, 22 Juli 2013

[Fanfiction] I'll Find the Happiness


 


Author: Deta Rainbow
Genre: Romance
Length: Oneshoot
Rated: Teen/ Young Adult
Main Cast: Seo Joo Hyun Of  Snsd (Aku); Jung Yong Hwa Of Cnblue; Tae Shin (Oc)

Aku ingat, saat itu Taeshin berjanji akan menemuiku lagi setelah dirinya selesai dengan studi musiknya di Amerika. Demi apapun, aku takan pernah melupakannya. Aku ingat wajahnya yang berseri yang aku artikan sebagai kamuflase jiwanya. Karena sesungguhnya aku melihat sedikit kecemasan dalam raut wajahnya. Kau tahu? Selama ini Taeshin tak pernah membiarkanku merasa cemas, gelisah, khawatir bahkan takut terhadap segala hal mengenai dirinya. Matanya selalu meneduhkan. Menenangkan. Membawa kedamaian. Membuatku merasa nyaman. Namun saat itu berbeda. Entah mengapa, aku merasakan secuil kekhawatiran menyeruak dalam dadaku. Terlebih-lebih saat Taeshin menggenggam tanganku, menempelkannya pada bibirnya yang merah lalu dikecupnya tanganku dengan lembut. Aku paham, ia melakukannya agar aku tak perlu sedih. Alih-alih menenangkan, kekhawatiranku justru menjadi semakin tak terkendali. What-a-day! Forgive me, Taeshin.

Di hari keberangkatannya, saat Taeshin berbicara denganku face to face di hadapan pesawat, aku menahan air mataku yang sudah menggenang di pelupuk mata agar tak terjatuh membasahi pipiku. Aku tak boleh menangis. Aku tak ingin Taeshin tahu bahwa kali ini ia telah gagal menenangkanku. Taeshin lalu mendekap tubuhku. Hangat namun belum juga menenangkan. Lagi-lagi aku harus meminta maaf untuk ini. I really really beg your pardon, Taeshin!
"Kau tak apa, ah?" Tanya Taeshin membuat air mata yang menggenang di pelupuk mataku seakan berlomba-lomba untuk meniti membasahi kedua pipiku. Aku hanya menganggukan wajah dan tersenyum. Aku khawatir suaraku akan parau jika aku berkata-kata. "Aku akan langsung menemuimu jika aku pulang nanti." Lanjut Taeshin lagi, kali ini seraya mengelus rambutku lembut.\
Taeshin lalu berbalik dan berjalan menjauh. Aku melihat punggungnya yang semakin menghilang dari pandanganku. Taeshin pergi. Taeshin-ku pergi! Kini, air mataku benar-benar mengalir deras.
Yonghwa yang tak lain adalah adik kandung Taeshin mendekatiku dan memeluk tubuhku erat. Aku menangis di bahunya. "I don't wanna see the most beautiful girl in the world who I love cries like this." Ucap Yonghwa seraya mengusap punggungku dengan lembut.
Aku terkejut. Bagaimana bisa Yonghwa mengatakan hal itu padaku sementara saat itu ia telah memiliki seorang kekasih. Aku segera melepaskan pelukannya dan menghempaskan tubuh tingginya.
"Ya! Waeyo?" Tanyanya saat itu. Ia sedikit membentakku.
"Kau tak berhak mengatakannya padaku, you've been engaged!"
"Ah, kau benar. Mianhae."
Sejak saat itu, Yonghwa tak penah lagi menemuiku. Entahlah, yang aku katakan saat itu benar atau salah. Awalnya kami benar-benar berhubungan baik. Aku begitu akrab dengannya. Dia adalah rekan satu kampusku juga sahabat terbaikku. Karena ia pula lah aku mengenal Taeshin.
***
Aku memandang sekeliling. Kini, aku tengah berada di taman bunga yang tiap kali musim semi selalu aku datangi. Tentunya dengan Taeshin. Suasana saat ini benar-benar berbeda. Sepi. Tak ada Taeshin juga senyumnya atau bahkan siluetnya sedikitpun. Aku merindukannya. Benar-benar merindukannya.
"Nona, kau sendiri?" Tanya seseorang tepat di belakangku. Aku menengok dan segera melihatnya. Seseorang berkulit putih dengan stick drum dalam genggaman tangannya.
"Ne, ada apa?" Tanyaku seraya melemparkan senyum ke arahnya.
"Aku boleh duduk di sebelahmumu, ah? Tak lama, hanya lima menit." Katanya lagi tanpa malu-malu.
Aku mempersilahkannya. Selama lima menit berjalan -maksudku, tak benar-benar lima menit- pria itu membicarakan banyak hal padaku. Namanya Min Hyuk. Ia adalah seorang drummer dari band yang menurutnya suram.
"Aku putus asa, maka dari itu aku akan menjual stick kesayanganku ini. Aku tak mau bermain musik lagi. Band-ku selalu gagal. Belum pernah mendapat tawaran manggung sekalipun, aaaaah!" Ungkapnya seraya mengacak rambutnya keras. Aku tersenyum dibuatnya.
"Kau yakin? Rekan-rekan satu band-mu setuju?"
"Band-ku hanya memiliki dua personil. Aku tak yakin temanku setuju, tapi dia peduli apa? Si brengsek itu benar-benar tak bisa diandalkan. Aku berjuang mati-matian demi band kami, tapi apa? Dia malah menggunakan semua uang tabunganku untuk pergi berkencan dengan para wanita, gaesaekki! Sial, dan aku baru saja ditolak oleh wanita yang sudah menjadi sahabatku sejak lama." Umpat Min Hyuk membuatku mengangkat kedua alisku secara bersamaan dan teringat kepada Yonghwa. "Ah Nona, itu dia orang yang mau membeli stick-ku datang. Aku permisi."
Aku mencoba untuk melihatnya, tapi tak bisa melihat jelas orang yang mau membeli stick Min Hyuk. Akhirnya, Min Hyuk melangkah pergi. Setelah kurang lebih delapan langkah, ia berbalik kembali dan menatapku sambil berkata, "Gomawo!" membuatku menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Kini suasana taman kembali menjadi sepi, terlebih-lebih hatiku. Ingatan tentang Taeshin berlari-lari dalam kepalaku. Aku menghela napas pelan. Oppa, kau mengapa tak pernah menghubungiku? Sudah hampir dua tahun semenjak kepergian Taeshin aku tak pernah benar-benar bisa merasakan ketenangan. Bahkan aku sempat menduga bahwa Taeshin akan menemukan gadis lain di sana. Namun, aku tak membiarkan pikiran-pikiran semacam itu bersemayam terlalu lama dalam otakku. Aku selalu mencoba melenyapkannya. Aku percaya Taeshin, ia tak mungkin mengecewakanku. Aku beranjak dari kursi taman, merapikan kemeja merah muda panjangku dan bergegas pulang ke rumah karena hari sudah semakin sore.
***
Di perjalanan pulang, aku melihat seorang wanita seumuranku tengah berlari ke arahku. Matanya sembab, tampak habis menangis. Kemudian ia menabrakku dengan keras hingga aku hampir terjatuh.
"Ada apa?" Tanyaku cemas. Dirinya tak menjawab, hanya terisak.
Detik berikutnya, seorang pria tampan menghampiri kami. "Sayang, aku tak bermaksud---"
"Aku tak ingin mendengarkan apapun lagi dari mulutmu. Kau pembohong!" Bentak wanita itu seraya menitikan air matanya. "Kau bisa lihat dia?" Tanyanya padaku sambil menunjuk pria tampan di hadapan kami. "Dia pembohong! Dia telah mencium wanita lain di hadapanku. Kau bisa bayangkan itu, ah?"
Ya Tuhan, apa lagi ini? Mengapa aku selalu Kau libatkan dalam masalah-masalah orang yang sama sekali tak aku kenal?
"Jungshin-ah, sekarang kau pergi dari hadapanku, aku benar-benar tak ingin meilhatmu lagi!"
Pria itu menatap ke arahku tajam lalu mendengus. Aku tak mengerti maksudnya.
Selang beberapa detik setelah pria tampan itu pergi, wanita di hadapanku segera memelukku. Aku balas memeluknya. Aku merasa kasihan padanya. Aku benar-benar tak mampu membayangkan jika hal ini terjadi padaku dan Taeshin. Aku memejamkan mata dan menggelengkan kepalaku keras.
***
Hari ini, Yonghwa menemuiku lagi setelah sekian lama aku tak melihat perawakan jangkungnya. Lamanya sama dengan aku tak bertemu Taeshin. Yonghwa meminta maaf padaku. Hal pertama yang aku tanyakan padanya adalah, "Ada kabar dari kakakmu?" Yonghwa mengangguk lalu segera memelukku seperti saat di bandara. Apa maksud pelukannya?
Yonghwa lalu menarik tanganku dan mambawaku menuju mobil sedan hitamnya. Ia membukakan pintu mobilnya untukku dan menyuruhku untuk masuk. Aku tak mampu menolaknya.
Yonghwa menekan tombol on radio pada dashboard mobilnya. Pandangan kami beradu seketika saat lagu Love really Hurts milik salah satu personil boyband terkenal di Korea Selatan terdengar. Lagi-lagi aku tak mengerti maksud tatapannya. Yonghwa kembali fokus menatap ke arah jalan.
"Berjanjilah satu hal padaku." Kata Yonghwa tanpa menatapku.
"Apa?" Tanyaku bingung.
Yonghwa terdiam. Setelah itu, aku tak mendengar apapun lagi dari mulutnya. Aku memberanikan diri untuk menanyakan perihal hubungan Yonghwa dengan tunangannya. Dan dengan sederhana, ia menjawab bahwa ia telah membatalkan pertunangannya. Ini sontak membuatku terkejut dan marah padanya. Bagaimana bisa sahabatku ini membatalkan pertunangannya secara sepihak? Cukup menyakitkan untuk wanita yang telah ia kecewakan, aku tahu hal itu. Aku tak ingin berbicara apapun lagi dengannya. Akhirnya kami hanya terdiam satu sama lain. Sebenarnya aku masih ingin bertanya padanya perihal perjalanan ini, kemana ia akan membawaku? Namun aku urungkan.
Ternyata ia membawaku ke apartemen miliknya dan Taeshin. Ia lagi-lagi menarik tanganku secara paksa, namun kali ini aku tidak diam, aku segera menghempaskan genggaman tangannya. "Aku bisa berjalan mengikutimu. Kau tak perlu menarik tanganku seperti tadi."
Yonghwa pun berjalan di depanku, aku mengikutinya secara seksama.
"Where's Taeshin?" tanya Yonghwa pada seorang wanita sesaat setelah ia membuka pintu. Wanita itu tersenyum pada Yonghwa. Rambutnya pirang, matanya biru, kulitnya putih berbintik merah khas orang-orang barat.
"He's taking a shower. What’s wrong, Yonghwa?"
"Don't speak a lot, bitch!" Ujar Yonghwa disambut oleh tamparan keras dari wanita tersebut.
Aku membungkam mulut dengan kedua tanganku saat menyaksikan kejadian itu. Apa yang sebenarnya terjadi. Siapa wanita itu?
Sesaat kemudian, aku melihat Taeshin keluar dari kamar mandi dengan handuk putih menggantung pada lehernya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, tubuhku membeku selama beberapa detik. Aku melihat mata itu lagi setelah sekian lama tak melihatnya. Aku yang tak kuasa menahan gejolak kerinduan akhirnya segera berjalan cepat menuju Taeshin dan segera memeluknya erat.
Aku dapat merasakan Taeshin balas memelukku secara perlahan. Ini kali kedua aku tak merasakan kehangatan dari pelukan Taeshin setelah pelukan pertamanya di bandara dua tahun lalu yang juga tak menghangatkan.
"Aku merinhdukanmu." Kataku, berharap Taeshin akan mengucapkan kalimat yang sama. Namun tak terdengar apapun dari mulutnya.
Yonghwa tiba-tiba menarik tubuh Taeshin yang masih memelukku. Ia memukul bagian pelipis mata Taeshin dengan keras menyebabkan pelipis mata Taeshin mengeluarkan sedikit darah.
Aku mendengar teriakan dari wanita bule di belakangku. Aku sendiri hanya terpaku menyaksikannya. Air mataku menetes.
"Yonghwa, stop it!"
"Shut up, Angela! It isn't your business!" Teriak Yonghwa yang kali ini menghantamkan tinjuan keras pada perut kakak laki-lakinya. "Ini balasan untuk pria bajingan sepertimu!"
Kali ini aku tak tinggal diam, aku tak kuasa melihat pria yang aku cintai mendapat hantaman yang bertubi-tubi dari Yonghwa. "Yonghwa-ah, aku mohon hentikan!"
Aku melihat tubuh Taeshin kini tergeletak tak berdaya. Yonghwa berlutut di hadapan Taeshin, menarik kaus Taeshin dan sekali lagi menghantam wajah Taeshin dengan keras. "Kau takan melarangku melakukan hal ini jika kau tahu apa yang sudah ia lakukan!" Kata Yonghwa membuatku bertanya-tanya.
Kini aku melihat wanita bule bernama Angela itu mengampiri Taeshin dan mengelus pipi Taeshin pelan. Pemandangan macam apa lagi ini? Mengapa Angela begitu lancang menyentuh kekasihku?
"Kau tahu? She's pregnant! Taeshin yang melakukannya!" Kata Yonghwa menunjuk ke arah Taeshin dan Angela.
Aku merasakan kepalaku akan meledak saat mendengar pernyataan Yonghwa. Aku tak ingin mempercayainya namun Angela mengiyakan. Aku menangis sejadi-jadinya di hadapan mereka.
"Mianhae." Ujar Taeshin seraya menahan sakit.
Aku yang kalap segera berjalan keluar ruangan. Yonghwa mengikutiku. Lagi-lagi ia memelukku. Aku menumpahkan segala emosiku di sana, dalam dekapannya. Pria yang aku tunggu kehadirannya selama kurang lebih dua tahun, pria yang untuk pertama kali aku cinta, pria yang telah menorehkan harapan-harapan bahagia dalam hidupku nyatanya telah mengecewakanku. Benar-benar mengecewakanku.
"Aku minta maaf, aku tak mengatakan hal ini sejak kepulangan Taeshin beberapa bulan yang lalu. Aku hanya khawatir terhadap keadaanmu. Dia Angela, wanita yang Taeshin nikahi setelah ia menghamilinya beberapa saat sebelum kepulangannya ke Korea."
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, tak kuasa menahan kesedihan. Sakit, terlalu sakit. Rasa sakit yang tak pernah aku bayangkan juga aku rasakan sebelumnya. Yonghwa mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku. Please, I don't wanna see the most beautiiful girl in the world who I love cries like this." Aku mendengar kata-kata yang sama dari mulut Yonghwa. Kata-kata yang selalu ia ucapkan ketika melihatku menangis. "Kau adalah alasan mengapa aku membatalakan pertunanganku secara sepihak. Dan kau telah berjanji satu hal padaku, aku ingin kau menepatinya sekarang." "Apa?"
"Jangan menangisi Taeshin lagi."
"Aku tak bisa."
"Mengapa? Kau punya aku. Aku mencintaimu. Sejak dulu."
"Kau tak tahu bagaimana sakitnya."
"Aku mengerti, tapi aku mohon, jangan membuat kegagalan pertunanganku sia-sia."
"Aku tak bisa Yonghwa-ah, yang aku cintai itu Taeshin bukan kau."
Yonghwa mengangguk pasrah. Aku melihat kesedihan di wajahnya.
"Baiklah.. aku takkan memaksamu lagi." Kata Yonghwa sambil meninggalkanku seorang diri di depan apartemennya. Sejak saat itu, Yonghwa kembali menghilang dari hidupku.
***
Beberapa bulan kemudian,
Aku menyadari bahwa kini aku sudah lebih tenang. Setidaknya, aku sudah bisa ikhlas Taeshin menikah dengan wanita lain. Namun ada satu hal yang mengganjal dalam hatiku. Aku merindukan Yonghwa. Ya, pria itu. Aku merindukannya. Tapi aku merasa bukan rinduku terhadap seorang sahabat, melainkan rindu yang lebih personal. Aku tak tahu mengapa aku bisa merindukannya. Mungkinkah bahwa aku telah berhasil move on dari Taeshin? Entahlah. Namun aku kira, setelah ini aku perlu menelepon Yonghwa dan membuat janji dengannya. Aku yakin, aku akan menemukan kebahagiaan di kehidupanku selanjutnya.
-To Be Continued-

Silahkan baca sequel plus cerita endingnya di sini ---> You're My Happiness (Sequel & Ending)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please, gimme your comment after finish reading my post^^