Selasa, 27 Agustus 2013

[Fanfiction] You're My Happiness



 

Sequel dari FF sebelumnya ----> I'll Find the Happiness
 AUTHOR: Deta Rainbow  
GENRE: Romance  
LENGTH: Oneshoot
RATED: Teen/ Young adult  
MAIN CAST: Seo Hyun SNSD (Aku); Yong Hwa CNBLUE & Park Shin Hye

Sudah lima bulan berlalu dan rasa rinduku semakin hari semakin menjalar. Ya, aku merindukan Yonghwa -pria yang kerap kali meminjamkan bahunya untuk aku berkeluh kesah atau sekedar meluapkan emosi- tapi dimana ia sekarang? Semenjak aku menolaknya beberapa waktu yang lalu, ia sama sekali tak pernah menampakan diri di hadapanku lagi, sekalipun. Ya! Mampukah kau mendengar gejolak rindu yang kian bergemuruh di dalam dadaku?

 Aku menatap nanar ke arah langit malam ini. Tak terlihat satu bintangpun di sana. Kelam, sekelam hatiku. Aku mencoba memfokuskan pandanganku, melihat apapun yang terlihat. Segera aku pukul kepalaku keras saat aku melihat wajah Taeshin yang tiba-tiba muncul menutupi permukaan langit. Pria itu, untuk apa ia masih bermain-main denganku?
Kupejamkan mata berulang kali, berharap bayang wajah Taeshin akan segera melenyap, namun sia-sia. Nyatanya ia masih betah berdiam diri di sana, pada panorama langit malam yang tengah kutatap. Ia tersenyum, senyuman khasnya yang tak mungkin dimiliki oleh laki-laki manapun lagi. Astaga, mengapa demikian? Mengapa bayangannya menghampiriku disaat aku tengah merindukan Yonghwa?
"Nona, sebaiknya kau masuk rumah, udara malam ini tak baik untuk kesehatan. Terlalu dingin." Aku mendengar Hyoyeon ajhumma menyuruhku untuk bergegas memasuki rumah. Ia adalah pelayan keluarga yang telah mengabdi cukup lama di rumahku.
Umurnya menginjak angka empat puluh, namun tak ada sedikitpun kerutan di wajahnya. Ia memang pandai berhias. Menurutnya, kecantikan itu hal yang penting untuk diperhatikan. Ia telah memiliki suami namun tak memiliki anak. Suaminya bernama Eunhyuk yang kebetulan adalah supir pribadiku. Mereka nampak serasi dan bahagia. Semenjak orang tuaku meninggal, mereka berdua lah yang mengurusi semua perlengkapanku.
"Jweisonghamnida ajhumma, tapi aku tidak apa-apa." jawabku seraya menyunggingkan senyum ke arah bibi Hyoyeon.
"Baiklah, mau aku buatkan teh hangat?" Bibi Hyoyeon menawarkan dengan ramah. Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Tunggulah sebentar, akan aku buatkan."
"Khamsahamnida ajhumma, kau begitu baik." Akhirnya bibi Hyoyeon kembali seraya membawa secangkir teh hangat kesukaanku.
Aku menyuruhnya untuk duduk di sebelahku. Aku memulai obrolan dengannya. Tak ada kecanggungan sedikitpun karena aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri dan aku terbiasa mencurahkan perasaanku yang terpendam padanya.
Dia menggenggam jemariku erat seraya menatap kedua bola mataku dengan seksama, "Jadi kau tengah merindukan seseorang? Apa kau tengah merindukan Taeshin-sshi?" tanya bibi Hyoyeon membuatku mendelik.
Aku menggeleng pelan. "Aniya, aku merindukan adiknya, Yonghwa." jawabku lemas. "Tapi ajhumma, aku pun masih bisa mengingatnya, mengingat Taeshin. Aku masih mengingat wajahnya, mengapa ia masih saja bermain-main dalam ingatanku? Tidakkah ia lelah membuatku merasa lelah? Ajhumma, otteohke?" desakku pada bibi Hyoyeon. Ia hanya tersenyum, wajahnya menenangkan.
"Aku mengerti, Nona. Bersabarlah. Tapi ada baiknya jika Nona tidak berlarut-larut dalam bayangan masa lalu Nona dengan Taeshin-sshi." ujar bibi Hyoyeon membuatku berpikir.
Ia benar, aku memang seharusnya tidak usah mengingat Taeshin lagi, tapi siapa yang mau? Aku tak pernah dengan sengaja mengingatnya, ia sendiri yang rutin berkunjung.
Menit berikutnya, aku melihat Eunhyuk ajhusshi berjalan menghampiri kami seraya membawa gagang telepon. Aku bisa menebaknya. Dan benar saja, ada panggilan untukku, namun sebelum aku mengangkatnya, aku belum bisa menebak siapa orang yang meneleponku malam-malam seperti ini?
"Berikan teleponnya, ajhusshi."
"Nona, kami permisi." ujar paman Eunhyuk seraya menggandeng bibi Hyoyeon memasuki rumah. Mereka tak pernah lancang menguping pembicaraanku dengan siapapun, itulah yang membuatku menyayangi mereka.
"Yeobseyo?" kataku pelan. Namun aku tak mendengar jawaban apapun. "Yeobseyo?" ulangku.
"How's life?" aku hampir pingsan saat mendengar suara di ujung telepon. Tak salah lagi, itu suara Taeshin. Untuk apa dia menghubungiku lagi?
"Maafkan aku, aku tak bermaksud-"
"Tak apa." potongku tiba-tiba sebelum Taeshin sempat meneruskan pembicaraannya. Aku tak ingin lebih lama lagi mendengar suaranya. Itu hanya akan membuat ingatanku kembali berkelebat dan aku tak ingin hal itu terjadi. "Ini sudah malam, aku lelah. Jweisonghamnida." ujarku seraya menutup telepon.
***
"Eunhyuk ajhusshi, antarkan aku ke tempat Yonghwa." Pintaku pagi ini pada paman Eunhyuk yang masih mengelap mobil yang baru saja ia cuci.
Paman Eunhyuk membukakan pintu mobil untukku dan aku bergegas memasukinya. Aku bersandar pada jok belakang, terasa nyaman. Hatiku pun demikian, aku bahagia karena sebentar lagi aku akan bertemu Yonghwa. Pria yang beberapa hari ini telah memenuhi relung rinduku. Ya, Yonghwa, sahabatku.
"Nona, kita sudah sampai." ucapan paman Eunhyuk menyadarkan lamunanku beberapa waktu kemudian.
Astaga, aku benar-benar berada di depan apartemennya Yonghwa. Setelah menuruni mobil, aku berjalan perlahan menyusuri koridor apartemen besar yang tengah aku tapaki. Aku ragu. Ya, aku benar-benar ragu. Beberapa bulan yang lalu, peristiwa buruk terjadi di tempat ini hmm maksudku, tak benar-benar buruk karena aku akhirnya mengetahui fakta mengenai Taeshin dan Angela. Namun itu tetap saja masih terasa menyakitkan untukku, sampai saat ini. Seketika hatiku menggerimis kembali. Aku mengingat bercak darah yang menempel pada handuk putih Taeshin, aku mengingat peristiwa pemukulan yang Yonghwa lakukan terhadap Taeshin. Hampir saja aku berbalik dan berniat untuk mengurungkan tekad awalku menemui Yonghwa, karena aura yang dikeluarkan tempat ini benar-benar membangkitkan kembali ingatanku akan masa lalu. Namun sebelum sempat aku membalikan badan, Yonghwa sudah terlebih mendapatiku berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kau?" Aku membenahi bajuku. Hatiku berdegup tak karuan.
"Apa kabar, Yonghwa-ya?" tanyaku.
"Aku senang kau mau mengunjungiku di sini." kata Yonghwa membuat senyumku mengembang. "Terimakasih banyak."
Tiba-tiba aku melihat seorang pria berjalan menghampiri Yonghwa. Aku merasa bahwa aku sudah bertemu dengan pria itu sebelumnya, tapi dimana? Aku memutar otak, mencoba mengingat. Ah, aku ingat. Dia adalah pria yang aku temui di taman beberapa bulan yang lalu. Pria yang putus asa akan nasib bandnya. Ya, Min Hyuk!
"Kau ini bagaimana? Mengapa kau berjalan jauh di depanku?" sahut Min Hyuk dengan pandangan mata marah.
"Sorry, aku terburu-buru." sahut Yonghwa.
"Pantas saja aku merasa bahwa aku harus segera kembali ke kamar apartemen, ternyata kau ada di sini." Lanjut Yonghwa padaku.
Pandangan mataku dan Min Hyuk beradu seketika. Aku melihatnya mengangkat kedua alisnya bersamaan nampak berpikir. Mungkin aku pikir, ia sedang berusaha mengingatku.
"Ka.. kau?" kata Min Hyuk seraya menunjuk wajahku. Aku mengangguk dan tersenyum, sementara Yonghwa memperhatikan kami dengan seksama.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Yonghwa kemudian. Lagi-lagi aku mengangguk. Entah mengapa aku merasa malas untuk sekedar mengatakan satuh patah kata pun. Kini, aku berharap bahwa ada kesempatan untukku dan Yonghwa untuk melepas rindu. Ya, aku merindukan momen-momen dimana kami berbincang, hanya berdua. Namun nampaknya Min Hyuk enggan beranjak dari hadapan kami. Ia masih setia berdiri di samping Yonghwa. Aku memainkan jariku, merasa tak nyaman.
"Yonghwa ini adalah pria yang membeli stick drum-ku waktu itu." detik berikutnya, aku mendengar Min Hyuk berbicara. "Kau lebih cantik dari hari pertama kita bertemu." lanjutnya lagi membuatku tersedak secara tiba-tiba.
Pada saat yang bersamaan, aku melihat mata Yonghwa melotot hampir keluar. "Min Hyuk-ah, sebaiknya kau tunggu di dalam apartemenku saja." kata Yonghwa seraya mendorong tubuh Min Hyuk ke dalam kamar. Ia lalu mengunci kamarnya.
Kini hanya ada aku dan Yonghwa. Berdiri, menatap satu sama lain. Ada rindu yang menggebu dalam hatiku, namun aku tak tahu apakah Yonghwa merasakan hal yang serupa. Entahlah, aku tak ingin lagi berharap.
"Aku merindukanmu." kataku memberanikan diri. Yonghwa menggigit bibir bawahnya, nampak dilema. Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini?
"Rindu layaknya seorang sahabat? Ah kau tak perlu mengatakannya, akupun demikian. Sudahlah, walau bagaimanapun, hubungan kita akan tetap seperti ini, bukan? Aku tahu bahwa kau tak mungkin bisa mencintaiku." Ujar Yonghwa membuat jantungku terasa mencelos.
Napasku tersengal, sesak mendengar kata-katanya. Aku sendiri tak yakin dengan perasaan rinduku. Apa benar yang dikatakan Yonghwa bahwa aku hanya merindukannya sebagai sosok seorang sahabat? Tak mungkin! Dia memenuhi mimpi-mimpiku selama beberapa bulan ini, tak mungkin jika rinduku hanya sebatas itu.
"Kau mengapa diam? Jadi benar, bukan? Tak apa, aku sudah bisa menerimanya sebagaimana kau bisa menerima takdir hubunganmu yang kandas dengan Taeshin." lanjut Yonghwa membuat dadaku terasa semakin sakit. Mengapa ia harus menyebutkan nama itu lagi? Aku baru saja akan mengeluarkan beberapa kata dari mulutku sebelum kahirnya Yonghwa mengambil jatahku berbicara, "Namun walaupun demikian, aku tak bisa dengan mudah menghapus semua perasaanku padamu sama halnya seperti kau yang kesulitan melupakan bayang-banyang Taeshin dari hidupmu!"
Kini, aku merasa bahwa detak jantungku benar-benar berhenti. Aku tak mengerti, mengapa semua hal yang Yonghwa katakan seolah benar-benar terjadi padaku?
"Kau tak usah khawatir, kini kau bisa kembali bersama Taeshin." Yonghwa menghela napas seraya mengusap keningnya yang berkeringat. "Taeshin telah bercerai. Ia hanya menikahi Angela sampai Angela melahirkan anaknya." Aku membungkam mulutku, merasa tak percaya. "Satu lagi, aku telah memutuskan untuk meneruskan lagi pertunanganku dengan Shinhye. Dia gadis yang baik, dia dan keluarganya masih mau menerimaku."
Aku membungkam mulutku, sekali lagi. Kau tahu apa yang aku rasa? Merasa seperti terhunus sebilah pedang, tepat mengenai jantungku. Perih, begitu perih. Aku tak mengerti dengan apa yang tengah aku rasakan, namun aku merasa tak senang jika Yonghwa meneruskan lagi pertunangannya dengan gadis yang bernama Shinhye.
Shinhye adalah teman satu kelasku di kampus. Ia cantik dan menawan. Tercatat, telah beberapa kali ia menjalin hubungan special dengan pria-pria hebat. Salah satunya Jonghyun. Jonghyun merupakan anak dari pemilik perusahaan saham terbesar di Korea Selatan.
Ia pernah memintaku untuk menjadi kekasihnya beberapa kali namun selalu aku tolak karena aku merasa tidak ada kecocokan antara aku dan dia.

Setelah itu, Jonghyun diberitakan menjalin hubungan dengan Shinhye, I feel glad to hear that. Namun beberapa bulan kemudian, hubungan mereka kandas dikarenakan Jonghyun yang gemar sekali bermain wanita.
Aku masih merasa senang saat Yonghwa bercerita untuk pertama kali bahwa ia akan bertunangan dengan Shinhye, namun kali ini, untuk kedua kalinya mendengar fakta semacam itu, aku benar-benar tak merasa senang. Dan oh, aku tak perduli dengan perceraian Taeshin dan Angela. Persetan dengan semua itu!
***
Sebulan kemudian, 
Aku telah mengurung diri di kamar dalam jangka waktu yang cukup lama. Aku nampaknya lelah menghadapi kenyataan, aku kalah, aku telah kalah.
Bibi Hyoyeon yang tak pernah mengenal lelah selalu saja memngtarkan makanan-makanan dan memaksaku untuk makan, aku berterimakasih untuk itu.
Seminggu lagi Yonghwa dan Shinhye akan melangsungkan pernikahan. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa? Aku tak mungkin jika tak menghadiri acara penting sahabatku sendiri namun apakah aku sanggup melihat pria yang aku sadari telah aku cintai bersanding dengan wanita lain di altar pernikahan? Setelah menimbang-nimbang dan meminta saran pada bibi Hyoyeon, akhirnya aku memutuskan untuk menghadiri resepsi pernikahan Yonghwa.
Bibi Hyoyeon memilihkan gaun terbaik untukku, ia mendandaniku namun ketika aku berkaca aku melihat wajahku yang masih terlihat pucat meski telah dipoles makeup. "Bersabarlah, hal baik akan segera menghampirimu." ujar bibi Hyoyeon saat aku bergegas memasuki mobil.
Aku melihat Shinhye terbalut gaun indah berwarna caramel tengah bersanding dengan Yonghwa. Begitu serasi. Seketika, air mataku menetes. Seharusnya aku yang berada di sana, bukan Shinhye atau siapapun.
Tak hanya itu, aku juga melihat Taeshin terduduk di samping orang tuanya tengah memperhatikanku. Dirinya melemparkan senyum ke arahku, aku lantas membalasnya.
Dulu, senyuman Taeshin lah yang selalu aku tunggu dan aku rindukan, namun kini semuanya telah benar-benar berubah. Jantungku tak lagi berdegup saat Taeshin tersenyum ke arahku.
"Kau siap?" tanya pendeta pada Yonghwa. Aku memejamkan mata, mencoba mengikhlaskan.
Saat pendeta membacakan sumpah pernikahan dan hendak dijawab oleh Yonghwa, aku tiba-tiba saja beranjak dari kursiku. "Hentikan!!!" teriakku tak terkendali.
Kuarahkan tatapan pada orang-orang disekelilingku, aku tahu kini mereka tengah menatapku dengan marah. Masa bodoh, aku benar-benar tak sanggup melihat Yonghwa menikah dengan Shinhye.
"Apa yang tengah kau lakukan?" tanya Shinhye pelan. Nampak kekecewaan pada raut wajahnya, mungkin karena aku telah menggagalkan pembacaan sumpah pernikahan calon suaminya.
"Yonghwa-ya, tataplah aku!" isakku parau di hadapan semua tamu undangan. "Kau pernah bilang bahwa aku yang membuatmu membatalkan pertunanganmu terdahulu. Aku yang menyebabkan semua itu. Aku yang telah membuatmu jatuh hati pada hati selain tunanganmu, dan itu aku! Kini, aku berusaha menggagalkan momen pentingmu secara sengaja." teriakku, kini dengan air mata yang sudah jatuh membasahi kedua pipiku.
"Kau wanita tak tahu diri! Keluar kau dari acaraku!" umpat Shinhye di sela-sela kata-kataku namun aku tak menghiraukannya, sama sekali tak menghiraukannya.
"Yonghwaah, aku merindukanmu. Jika kau pikir, rinduku ini adalah rindu seorang sahabat, maka kau salah besar!"
"Berhentilah membual diacara pernikahanku." kata Yonghwa kemudian.
"Aku tak membual! Aku mencintaimu entah sejak kapan."
Kini aku melihat Shinhye berjalan ke arahku dengan air mata yang berurai, ia lalu menamparku keras. "Kau terlambat! Yonghwa sudah menjadi milikku!" ujarnya marah.
"Hampir menjadi milikmu, namun kenyataannya belum. Kalian belum sempat mengucapkan sumpah pernikahan di hadapan pendeta." jawabku seraya mengusap pipiku yang terasa perih akibat tamparan Shinhye. "Yonghwa-ya, dengarkan kata hatimu!"
"Ya! Wanita tak tahu malu!" Kini Shinhye menjambak rambutku. Yonghwa berlari ke arah kami. Ia menghempaskan tubuh Victoria dengan cepat.
"Aku tak suka kau menyakiti Seohyun-ah!" katanya membuat Shinhye semakin berderai air mata.
Yonghwa lalu memeluk tubuhku erat. Ia mengusap punggungku lembut. "Maafkan aku, aku tak akan membiarkan wanita tercantik di dunia, wanita yang aku cintai dari dulu hingga detik ini menangis seperti ini." bisiknya pelan.
Entah apa yang terjadi pada para undangan yang hadir. Mereka semua terdiam, ajaib! Tak ada yang berusaha memisahkanku dengan Yonghwa kecuali Shinhye yang kini sedang berteriak histeris di belakangku, menyaksikan calon suaminya yang tak benar-benar menjadi suaminya tengah memelukku dengan mesra.
"Saranghae." Kata Yonghwa seraya menyeka air mataku lalu mengecup keningku lembut.
"Nado saranghae, Yonghwa-ya. You're my happiness. Aku benar-benar bahagia."
Aku benar-benar bahagia. Kebahagianku di tengah-tengah penderitaan Shinhye. Ya, aku adalah wanita paling jahat di dunia, aku menyadari hal itu. Tapi sekali lagi aku katakan, aku sama sekali tak perduli.
-END-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please, gimme your comment after finish reading my post^^