Selasa, 27 Agustus 2013

[Review] Lalu: Biar Diam Menjadi Teman karya E. Zazi

Judul: Lalu Biar Diam Menjadi Teman
Penulis: E. Zazi
Penerbit: PT. Elexmedia Komputindo
Kategori: Novel Inspiratif
Rating: 3/5 

Blurb:
Tak adakah tempatku untuk bersandar?
Masihkah daun yang beterbangan menghalangi pandangan?
Tidakkah di ujung sana yang kau lihat itu aku?
Dengan penuh harap, kutitipkan sehelai mimpi
Dan semua rasa yang kubaurkan di sana
Aku sangat barharap,
Engkau menarik tanganku
Dan membuat aku mengkhayalkan mimipi
Tapi kau tetap berdiri
Di antara puing-puing kecewa yang semakin berhamburan.
Review:

Secara garis besar bercerita mengenai  perjuangan seorang gadis remaja bernama Lupi Lavia yang menderita tuna grahita sehingga tak mendapatkan pengakuan dari keluarga serta teman-temannya. Dengan begitu, ia lebih memilih mengasingkan diri setelah mengalami diskriminasi. Karena tekanan itulah, Lupi memiliki peribadi yang keras, acuh pada sekelilingnya meskipun ia pintar. Lupi lebih memilih 'diam' dalam kebisunnya, membuat hidupnya yang sunyi semakin sepi. Sampai suatu ketika, sesuatu terjadi dan bisa mengubah hidupnya selamanya.

Menurut saya, ini salah satu novel yang memberi inspirasi kepada pembaca agar tidak  menyerah kepada takdir dan kekurangan yang kita miliki. Penulis menggunakan POV orang pertama tunggal (aku) dan dengan apik mampu mengajak pembaca seakan-akan menjadi tokoh utama dalam novel ini.

Untuk ide cerita itu sendiri, mengangkat tema mengenai tuna rungu dan tuna wicara  itu adalah ide cerita yang sangat menarik dan belum banyak diusung oleh para penulis.
Saya berekspetasi bahwa novel ini akan terasa membingungkan pada awalnya. Mengapa? Karena saya mengira bahwa novel yang mengangkat tema ini akan terasa sulit dicerna. Namun lagi-lagi, ekspspetasi saya meleset. Dan saya patut berbangga terhadap E. Zazi  yang benar-benar mampu menuliskan segala sesuatunya dengan rapih, baik dan tentu mudah dicerna. E. Zazi mampu memisahkan deskripsi yang menggunakan POV orang pertama tunggal dengan monolog si tokoh utama penderita tuna rungu dan tuna wicara yaitu menggunakan pembeda jenis tulisan (italic dan normal) sungguh, saya tidak terpikirkan untuk itu.

Kalimat-kalimat yang E. Zazi tulis pun berbobot namun mudah dicerna. Membuat kesan elegan untuk novel ini sendiri. Tidak banyak kekurangan pada novel ini yang dilakukan penulis. Hanya mungkin saya tidak terlalu suka dengan ending cerita yang masih menyimpan begitu banyak pertanyaan. Namun, untuk mereka yang berjiwa optimis, maka hal ini lah yang justru sangat diharapkan karena akan memacu imajinasi dan rasa penasaran yang tinggi.

Yang saya kurang suka adalah jenis font yang terlampau biasa. Mengapa penerbit tidak mengeditnya agar menjadi tidak biasa seperti yang dilakukan oleh penerbit-penerbit lain. Namun untuk cover, sangat cantik dan mempu memanjakan mata kita.

Over all, novel ini bagus dan sangat menginspirasi. Terdapat banyak pesan moral salah satunya yang menyadarkan kita bahwa kita lebih beruntung dari mereka yang memiliki kekurangan seperti Lupi.  Selain itu, kita juga diajarkan agar tak mudah menyerah dalam menggapai impian walau dalam keadaan apapun.

3 komentar:

Please, gimme your comment after finish reading my post^^