Rabu, 11 September 2013

[Fanfiction] It Hurts

Tittle: It Hurts
Author: Deta Rainbow 
Twitter: @detarainbow
Genre: Romance
Lenght: Oneshoot 1435 words 
Main Cast: Demi Lovato; Nick Jonas; Joe Jonas


Aroma laut tercium begitu menyengat, memaksa masuk dan menusuk pada salah satu dari lima panca indera yang di miliki oleh Demi Lovato. Dirinya lantas bergeming dalam diam, menutup kedua kelopak matanya dan mencoba melenyapkan segala sesuatu yang mengusik ingatannya saat ini. Namun usahanya sia-sia, alih-alih mendapatkan ketenangan, ia justru semakin terjebak dalam ingatan masa lalunya sendiri. Demi dengan sigap segera memukul kepalanya secara berulang-ulang.
Entah sejak kapan, Demi menganggap laut sebagai musuh terbesarnya, musuh yang selalu membuatnya merasa tengah berada dalam dimensi lain di masa lalu. Dimensi kelam nan pekat yang selalu berhasil membuat dirinya menggigil kedinginan meskipun ia mendapati seseorang tengah mendekapnya.

“Do you remember that moment again, honey?” Tanya Nick Jonas yang tengah menggenggam erat jemari tangan Demi.
Demi mengangguk. Wajahnya tampak pucat. "Nicky, you know exactly that I hate the sea. So, why did you bring me to this place?
I just wanna help you to heal your trauma.” Ujar Nick tenang.
You don't undertand, Nicky. That's too painful for me!” Isak Demi kemudian.
“Demi, I'm your boyfriend. Trust me, I'll help you.”
Nick memeluk tubuh Demi secara tiba-tiba, membuat wanita itu terkejut. Ada banyak pasang mata yang kini tengah mendelik ke arah mereka, namun Demi tampak tak menghiraukannya sama sekali.
Demi terpejam dalam dekapan Nick, lantas ia mengingat kembali kenangan kelam beberapa tahun silam.
***
What's happening? Why are people shouting at us? Bukankah kita sedang menikmati liburan musim panas, Joe? Mengapa tubuhmu terasa sangat dingin? Lebih dingin dari air lau yang membelai tubuhku barusan.
Demi masih terpejam, wajahnya pucat pasih. Terlihat, telapak tanganya  tengah digenggam erat oleh seorang pria tampan.
Apa yang tengah kau lakukan? Mengapa kau hanya berdiam diri di situ? Cepat selamatkan anakku!” Terdengar seseorang berteriak dengan nada panik.
Joe, I can clearly hear the voice of your mother. Please tell her, you and I are fine although I feel very cold. Quickly say! I don't wanna let your Mom worried about us.
“Joe, bangunlah! Mama mohon bangun!” teriak wanita setengah baya yang parasnya masih begitu indah seraya menggerak-gerakan  tubuh anak laki-laki di hadapannya.
Pada detik berikutnya, wanita tersebut melihat genggaman tangan anak laki-lakinya terlepas dari tangan Demi.
“Kau harus mampu menyelamatkan anakku, aku akan bayar berapapun yang kau minta!” teriaknya lagi pada salah seorang pengunjung pantai.
Don't you hear me? Mengapa kau belum juga mengatakannya pada ibumu? Aku merasa sedikit hangat karena kau telah melepaskan genggaman tanganmu yang dingin, tapi sungguh aku tak menyukai hal ini. Aku sudah katakan, aku baik-baik saja kalaupun aku harus menggigil asalkan kau tetap berada di dekatku. Jadi, tunggu apa lagi? Clasp my hands once again!
“Ohok!” Demi menyemburkan air laut yang telah tertelan. Dirinya masih belum menyadari apa yang tengah terjadi. 
Detik berikutnya, Demi menatap lemas wanita di hadapannya yang tengah berusaha menyadarkan Joe. Dirinya mencoba mendekat untuk menyeka air mata wanita tersebut.
“Demetria, ini semua karena kau! Lihatlah anak laki-lakiku! Dia mencoba menyelamatkanmu tapi... ah kau memang pembawa malapetaka!” isak wanita paruh baya itu lagi sambil memukul lengan Demi pelan.
Demi dapat merasakan hangatnya air mata wanita di hadapannya saat menetes pada lengan kanannya. Dirinya lalu menengok ke arah pria yang tergolek di pasir pantai yang putih.
“Joe?” isak Demi parau saat menyadari wajah pria di hadapannya mulai membiru. Belum sempat dirinya menyentuh wajah pria itu, lagi-lagi wanita paruh baya yang diketahui adalah ibu kandung Joe sudah lebih dulu mendorong tubuh Demi dengan keras.
“Pergi! Kau tak berhak berada di sini! Dari awal, aku memang tak suka dengan kehadiranmu. Ternyata benar, kau hanyalah pembawa sial. Enyahlah dari hadapanku, anakku tak pantas mendapatkan perempuan bodoh sepertimu!”
Kini, air mata yang sebelumnya telah menggenang di pelupuk mata Demi, yang mati-matian ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya yang halus. Perasaannya bercampur aduk. Ia tak mampu melihat pria yang paling ia cintai tergeletak tak berdaya di hadapannya. Ia pun merasakan penyesalan serta rasa bersalah karena dirinyalah yang telah membuat Joe celaka.
You're right, aku ini bodoh! Aku yang telah mencelakakan Joe, seandainya aku bisa berenang, mungkin ia tak akan seperti sekarang. Joe, I really beg your pardon.” bisik Demi parau seraya mencoba meraih tangan Joe, memastikan bahwa laki-laki itu masih hidup.
What are you doing? Go away!
***
“Dem, kau mengapa hanya melamun di situ? Quickly select the fish you're going to buy.” Teriak Nick, menyadarkan lamunan Demi.

Kini keduanya tengah berada di pusat pasar ikan terbesar di New York. Nick sengaja membawa Demi ke tempat ini karena ia benar-benar ingin membantu Demi melenyapkan trauma Demi pada laut dan hal-hal yang berhubungan dengan laut.
Demi kemudian mengangguk mantap namun masih dalam keadaan lemas. Ia bergegas melihat ikan-ikan beku yang terletak di sebelahnya.
“Demi?” Kata Nick pelan saat Demi asik memilah-milah ikan yang akan ia beli. Demi memberanikan diri menghadapi aroma laut yang ditimbulkan ikan-ikan yang berjejer di hadapannya saat ini, walaupun sesekali  ia harus bersusah payah menahan napasnya.
What's wrong?” Tanya Demi tanpa mendelik ke arah Nick.
Do you still remember him?” Tanya Nick serius.
Who?” Tanya Demi kemudian.
“Kakakku, Joe.”
Langit mendadak gelap, gumpalan awan hitam berjalan beriringan menutup sinar surya. Gemuruh petir terdengar jelas di tengah keramaian. Demi terisak dengan telapak tangan yang menutup separuh wajahnya. Rintik hujan gerimis perlahan mulai turun, semakin lama semakin deras. Demi mendapati tubuhnya telah basah kuyup terguyur air hujan. Namun ini sama sekali tak menggerakan hatinya untuk sekedar mencari tempat yang lebih teduh, bahkan ia semakin menenggelamkan diri dalam derasnya hujan. Tanpa takut tersambar petir, ia menengadahkan kepalanya kearah langit. Tangisnya pecah tak tertahan, air matanya mengalir deras bercampur dengan tetesan air hujan yang membasahi pipinya.
“Dem, hujannya semakin deras, sebaiknya kita berteduh dulu!” seru Nick sedikit berteriak berusaha mengalahkan suara hujan juga petir ketika melihat Demi tengah menggigil kedinginan. Demi yang berrambut panjang itu menggelengkan kepalanya keras. Hati Nick merasa tersentuh ketika ia melihat tetes demi tetes air mata yang jatuh membasahi pipi Demi. Baru kali ini ia melihat tunangannya itu menangis. Ia peduli, sangat peduli.
Can you hear me? Hujan semakin deras, sebaiknya kita berteduh.” Ujar Nick lagi.
Sekali lagi Demi segera menggelengkan kepalanya keras tanpa sedikitpun menatap wajah Nick yang tengah memperhatikannya dari dekat.
Tanpa diduga, Nick yang tampak kebingungan itu meraih tangan Demi dan dan menggenggamnya erat. “Hidupku mungkin tak seberat hidupmu, tapi aku bisa merasakan kekalutan yang kini kau rasakan. Aku akan selalu hadir dalam kondisi apapun.” Ucap Nick lembut sambil sesekali harus menelan air hujan yang masuk ke dalam mulutnya.
Nick sangat khawatir karena Demi terus menerus membiarkan tubuhnya diguyur hujan. “Aku tak ingin kau sakit.” bujuk Nick sambil melemparkan senyum manisnya. Kali ini Demi menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ajakan Nick untuk berteduh. Mereka pun akhirnya berjalan bersebelahan dengan tangan-tangan mereka yang saling berpegangan.
“Bersabarlah” ujar Nick sambil menyeka air mata di pipi Demi dengan lembut. “Tuhan selalu memiliki rencana indah di setiap peristiwa kalut yang hadir.” Nick tersenyum mencoba menguatkan Demi. “I know, you're tired of life. Aku tahu kau merindukannya, aku pun tahu kau ingin merubah takdir yang sudah tertulis. Tapi kau tak boleh menyakiti dirimu sendiri dengan membiarkannya terus-menerus diguyur hujan. Ini adalah titipan dari Tuhan yang harus kau jaga.” Nick melanjutkan.
“Nick, Joe telah meninggal setahun yang lalu. Dia telah pergi untuk selama-lamanya. Aku merindukannya melebihi apapun di dunia ini.” Isak Demi tak sadar bahwa ia tengah berbicara pada tunangannya.
Nick segera memeluk tubuh Demi yang bergetar hebat. Ia kemudian mengelus-ngelus punggung Demi dengan halus. “Kau boleh menangis sepuasnya di sini, di bahuku.” Nick pun ikut meneteskan air mata, menyadari bahwa Demi takkan pernah bisa mencintainya.

“Aku benar-benar tak sanggup menopang beban hidup seberat ini. Mengapa Tuhan tak juga mengambil nyawaku agar aku dapat bertemu dan berkumpul dengan orang yang paling aku cintai? Aku ingin mati saja.”
“Dem, sudah berapa kali aku katakan, aku tak suka kau mengatakan hal yang aneh-aneh. Kau boleh saja bersedih, tapi kau harus memikirkan orang-orang di sekelilingmu juga. Orang-orang yang perduli terhadapmu atau orang-orang yang hingga detik ini masih mencintaimu dengan tulus.”
“Kau tak mengerti, Nicky.” Teriak Demi. “Aku ingin mati saja.” Lanjutnya lagi.
“Silahkan, jika kau ingin mati, silahkan! Bahkan saat ini pun tak apa. Silahkan bunuh diri di hadapanku! Agar aku bisa merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang aku sayang, bukankah itu yang kau mau?” isak Nick keras sambil melepaskan pelukannya pada Demi.
"Apa maksudmu?"
“Aku mencintaimu. Sejak dulu, sejak aku tahu bahwa lelaki yang kau cintai itu hanyalah kakakku, bahkan sampai saat ini. Aku gagal melenyapkan perasaan ini. Maafkan aku. aku memang tak pernah merasakan pedihnya kehilangan orang yang aku sayang, tapi aku tahu jelas sakitnya saat mencintai kau yang jelas-jelas tak mencintaiku.” Tangis Nick pecah, ia sudah tak mampu membendungnya.
“Maafkan aku.” Isak Demi merasa bersalah dan memeluk tubuh Nick erat.
 - End -



Note: Ficlet ini pernah diikutsertakan dalam giveaway dengan judul yang sama namun cast dan latar tempat yang berbeda dan kalah wkwk jadi aku share di sini.

2 komentar:

Please, gimme your comment after finish reading my post^^