Rabu, 02 Oktober 2013

Sekilas Ulasan Mengenai Perpustkaan di Kampusku


Hi, aku Deta, mahasiswa tingkat 3 Pendidikan Bahasa Inggris di salah satu universitas swasta di kota kelahiranku. Sejak SMP, aku sudah hobi mengunjungi perpustakaan tentunya dengan tujuan membaca, baik itu bacaan fiksi maupun nonfiksi. Jika aku ditanya, apakah kini aku masih hobi mengunjungi perpustakaan? Jawabannya tentu. Aku tak bisa meninggalkan hal yang satu ini. Sedikitnya 3 kali dalam seminggu aku selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi surga buku tersebut. Serius, I don't tell a lie.

Aku akan bercerita sedikit mengenai perpustakaan di kampusku yang ukurannya jauh lebih luas dibandingkan dengan perpustakaan SMP atau SMA-ku dulu. Tapiiii... ada tapinya hehe aku menemukan hal-hal yang bertolak belakang dengan kemegahan perpustakaan di kampusku itu. Mau tahu? wkwk okay check it out, reader ^^

 1. Jumlah buku yang terbatas. Aku sangat menyayangkan sekali hal ini, mengapa di perpustakaan semegah perpustakaan kampusku, aku masih melihat tempat-tempat kosong pada rak buku. Bukan karena raknya terlalu besar, tapi aku pikir itu disebabkan oleh sedikitnya buku yang ada. Seingat saya, perpustakaan SMA, memiliki lebih banyak buku dibandingkan perpustakaan di kampusku sekarang. Hiks, sedih dengan fakta ini.

2. Pelayanan yang tidak meninggalkan kesan puas. Ini masalah yang kerap kali aku temui. Sejak SMA, aku selalu dihadapkan dengan penjaga perpustakaan yang super duper judes! Kalau aku tidak mencintai perpus, rasanya aku enggan menginjakkan kakiku di tempat itu lagi. Namun rasa cinta sejatinya selalu berada di atas segala-galanya. Hal inilah yang membuatku tetap mengunjungi tempat yang aku cintai meski harus menemui orang-orang yang membuatku merasa tak nyaman. Pelayanan yang buruk itu lagi-lagi harus kutemui di perpustakaan kampusku. Selain ketidakramahan pustakawan dan penjaga perpus, kami (pengunjung perpus) kerap kali di usir dari perpus sebelum jam shalat dzuhur tiba. Jam 11, kami sudah harus meninggalkan perpus dengan alasan istirahat pegawai, padahal aku tau dengan jelas bahwa jam istirahat itu selepas dzuhur hingga jam 1. It hurts me so much, ya bayangkan saja rasanya diusir itu bagaimana seharusnya mereka bisa bersikap profesional, tidak korupsi waktu apalagi mengusir orang yang sedang asik membaca.

3. Buku fiksi yang sangaaaaaat minim. Tidak bisa dipungkiri, buku fiksi pun perlu ada di perpustakaan, karena orang yang berkunjung ke perpus tidak hanya mereka yang mencari buku nonfiksi untuk menyelesaikan tugas tapi juga mereka yang ingin mencari hiburan dengan membaca buku fiksi, sepertiku hehehe namun sayang, buku fiksi nampaknya kurang menjadi perhatian di perpus kampusku. Hanya terdapat 1 jajar buku fiksi pada rak buku, sedikit sekali itupun novel-novel lama alias jadul hehehe. Selama 2 tahun kuliah, aku belum pernah sekalipun menemukan buku fiksi baru, tetap yang itu-itu saja. Sempat usul, namun tidak ditanggapi dengan serius. Padahal dengan iuran perpustakaan yang dibebankan kpd beribu-ribu mahasiswa dari berbagai fakultas setiap tahunnya, mereka bisa menganggarkan biaya untuk membeli buku fiksi itu sendiri.

Terlepas dari itu semua, aku juga kerap kali melihat pemandangan yang memprihatinkan di dalam perpus. Fungsi utama perpus sepertinya sudah disalah gunakan. Dengan adanya AC dan free hotspot area, para pengunjung justru asik dengan aktivitas mereka yakni online, bukan membaca buku, so saaaaad. Bahkan ada yang datang ke perpus hanya untuk tiduran, menyandarkan kepala pada meja baca atau lebih parahnya lagi, pacaran! OMG!

Itulah sedikit ulasan mengenai penggambaran perpustakaan di kampusku yang namanya tidak saya cantumkan untuk menjaga nama baik hahahay… Dan melihat banyak sekali hal-hal yang tidak berkenan di hatiku, tiba-tiba aku tergerak ingin menjadi seorang librarian teladan dan profesional hehehe, Inshaa Allah jika Allah mengizinkan.

Okay reader, sekian postingan saya hari ini, byeeeeeeeee…

Postingan ini diikutsertakan dalam Library Giveaway by http://luckty.wordpress.com

6 komentar:

  1. "Padahal dengan iuran perpustakaan yang dibebankan kpd beribu-ribu mahasiswa dari berbagai fakultas setiap tahunnya, mereka bisa menganggarkan biaya untuk membeli buku fiksi itu sendiri."

    --> jadi inget pernah punya pengalaman kerja di perpus kampus. Hampir nggak ada sama sekali yang namanya buku fiksi. Pas aku masuk sana, kebetulan diamanahi buat pengadaan buku, aku anggarin deh beli buku-buku fiksi unyu lumayan banyak. Sayangnya, sekarang aku udah gak kerja di sana. Aku lihat, buku fiksi yang ada hanya pas jaman aku masih disana, gak ada yang baru, padahal peminatnya lumayan banget.. :')

    Makasih ya udah ikutan Library Giveaway! ;)

    BalasHapus
  2. Seru juga yach ceritanya xixixi

    BalasHapus
  3. ahh perpus paling buat pacaran :p

    BalasHapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^