Senin, 25 November 2013

[Review] Dia; Seperti Inikah Seharusnya Cinta? karya Nonier

Judul buku: Dia
Penulis: Nonier
Penerbit: Gagasmedia
Jumlah halaman: 296 halaman
ISBN: 979-780-395-3
Rating: 3/5

Blurb:
KADANG, kita mencintai seseorang begitu rupa sampai tidak menyisakan tempat yang lain. Membuat kita lupa untuk sekedar bertanya, inikah sebenarnya cinta?
Seperti itulah dia. Diam-diam mencintai lelaki itu dengan sangat dan menyimpan sakit tak berperi saat harus mendatangi pertunangannya dengan perempuan lain. Sedikit pun dia tak berniat menyesali atau berhenti mencintai lelaki itu.
Bukankah memang begitu cinta seharusnya? Memberikan senyum untuk dia yang kita cinta meski diam-diam menumpuk sedih sangat banyak di dalam hati. Dia yakin, seperti itulah cinta.
Namun, saat semua berbalas, keraguan justru menjelma. Seperti inikah cinta yang selama Ini dia tunggu?
Review:
Akhirnya bisa menyelesaikan membaca novel ini di tengah-tengah tugas yang sangat menumpuk juga rasa kantuk yang selalu enggan berkompromi. Pasalnya, baru saja membaca sekitar 100 atau 120 halaman sudah ngantuk hehehe dan aku menyelesaikan “Dia” dalam empat hari wkwk lama sekali.
Novel ini bercerita mengenai Denia (Denok) yang menaruh hati kepada Janu (Kakak sepupunya) yang sudah hampir menikah dengan Sasa, seorang model cantik. Di tengah-tengah kemelut cinta Denia dan Janu, ia mengenal sosok Saka yang misterius, yang selalu muncul tiba-tiba di hadapannya namun tanpa mengucapkan banyak kata. Di sini diceritakan bahwa Denia telah bertemu Saka di kereta api, saat Denia hendak ke Jakarta untuk menghadiri pertunangan Janu dengan Sasa. Pertemuan Denia dan Saka untuk pertama kali ini sangat manis walaupun terjadi sedikit percekcokan diantara keduanya akibat nomor kursi yang sama sehingga keduanya berebut.

Saka merupakan anak sulung dari pemilik perusahaan percetakan yang menjadi pria dambaan Mila yang tak lain adalah adik kandung Sasa. Saka memiliki seorang adik laki-laki bernama Galih yang menaruh simpati terhadap Denia. Sedangkan Denia merupakan mahasiswi di perguruan tinggi di Surabaya yang memilki hobi tenis serta hiking.
Oke, aku gak akan cerita gimana kelanjutan kisah Denia, Saka, Janu, Sasa dan Mila, silahkan baca sendiri heheh takutnya spoiler ^^

Yay, lagi-lagi aku menemukan sosok pria misterius yang dingin macem Saka, I love that character! Seneng tiap kali baca part Saka wkwk tapi kesel kalo udah nyangkut Janu, soalnya aku gak suka sama karakter Janu yang plinplan dan egois. Ngeselin banget deeeh, apalagi waktu Janu labrak Saka, eurrggggh *ups, hampir spoiler hehehe*

Aku juga gak suka sosok Denia yang selalu salah sangka dan keras kepala tapi di sisi lain, aku ngerasa kasian ketika dia disudutkan oleh Sasa dan Mila, si kakak beradik yang aku pikir kejam wkwk

Aku kurang menikmati tiap part dimana Denia patah hati ketika melihat Janu dengan tunangannya atau konflik terbesar yang diusung dalam novel ini, gak nyampe ke hati, bacanya pun datar-datar aja hehehe.  Konflik-konflik kecil lah yang justru lebih bisa bikin gregetan sendiri sampe ngerasa pengen sobek bukunya.
Beberapa kalimat favorit:
  1. “Kau bukan saudaraku, temanku juga tidak, jadi nggak ada kewajiban bagimu untuk membuat kepalaku pening dengan sindiran dan kata-kata bermakna ganda……” (Denia kepada Saka, hlm. 166)
  2. Tidak mudah untuk melepaskan seseorang yang dicintai. Tidak mudah pula untuk menyingkirkan benda-benda yang memiliki kenangan dengan orang itu. (Hlm. 181)
  3. “Aku menjunjung tinggi kesetiaan. Aku setuju dengan mencintai seseorang saja. Tapi, itu juga bukan harga mati…… untuk keadaan tertentu, mati-matian itu bodoh. Misalnya, putus cinta lalu bunuh diri. Apa itu? Nggak masuk akal.” (Janu kepada Sasa, hlm. 188)
  4. “Apa mencintai seseorang itu salah? Toh aku tidak melakukan hal-hal yang menyakiti perasaan orang. Justru aku yang malah sakit. Aku menyimpan rasa itu sendiri, bertahun-tahun. Rasa yang selalu kutekan dan kujaga agar tetap berada di porsi yang benar. Karena aku masih waras……..” (Denia kepada Janu, Sasa dan Mila, hlm. 237)
  5. “Mencinta seseorang bukan kesalahan, Denia” (Janu kepada Denia, hlm. 290)
Dan aku menemukan 4 kesalahan pengetikan ^_^

Ini novel Nonier pertama yang aku baca. Sempet nengok Goodreads juga sebelum baca dan ternyata ratingnya boleh juga hehehe tapi tulisan Nonier bukan seleraku *tsah* hehehehe satu lagi, endingnya gantung! Wkwkwk butuh sequel, pengen ketemu Saka lagiiiiii *teriak-teriak*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please, gimme your comment after finish reading my post^^