Selasa, 31 Desember 2013

[Cerpen] Let It Rain

Let It Rain
Karya: Deta Rainbow



Tunggu aku saat kemarau tahun depan, aku pasti kembali."
“Aku mengingatnya. Mengingat kalimat terakhir yang kau ucapkan sebelum kau bertolak ke Negeri Sakura untuk menyelesaikan pendidikan S1-mu. Ray, sudah terhitung tiga kali pergantian tahun sejak kau berjanji padaku untuk kembali namun hingga detik ini, kau masih belum juga datang menemuiku. Sejujurnya aku lelah. Lelah untuk menantimu lebih lama lagi. Sadarlah, kau telah membiarkanku menggigil di tengah dinginnya angin musim kemarau selama bertahun-tahun. Ray, tidakkah kau ingat padaku? Pada kenangan kita di penghujung kemarau kala itu? Pada pesona kota kecil yang selalu kau banggakan ini? Ray, aku hanya khawatir jika Tokyo lebih mampu membuatmu terpukau dibandingkan kota kelahiranmu. Aku juga khawatir jika gadis berkimono mampu mencuri hatimu melebihi diriku. Ray, jika hingga pergantian tahun kali ini kau tak juga menemuiku, jangan salahkan aku jika aku mencoba untuk melepaskanmu.”

Aku nampaknya sudah gila, berbicara pada selembar foto dalam dompet hitam lusuhku. Aku benar-benar merindukannya. Rindu melewati kemarau berdebu dengan dirinya. Rindu merentangkan cinta dan berjalan berdampingan melawan arah angin hanya dengan dirinya—Rayhan Huga.
“Ji, keluarlah! Kau sudah terlalu lama berdiam diri di kamarmu. Memangnya kau tak merasa lapar, hah? Bukankah dari awal sudah aku katakan bahwa kau tak perlu menerima cinta seseorang yang kini menjadi kekasihmu itu? Sekarang kau lihat sendiri bagaimana dia membuat hidupmu berantakan!”
Aku tak memperdulikan apapun lagi hari ini. Entah itu ajakan Ratna untuk bertamasya ke waterboom yang baru saja dibuka, tawaran Nina untuk mengunjungi pasar malam dan membeli semua boneka yang aku inginkan atau bahkan teriakan dari luar kamar yang sebelumnya benar-benar bisa membuat kedua telingaku tuli. Tak salah lagi, itu adalah suara Fadly—anak dari pemilik kost yang aku tempati saat ini sekaligus teman sekolah dan sahabat dekat Rayhan.
Detik ini juga, kubiarkan angan tentang cinta tenggelam bersama dengan pudarnya cahaya rembulan di langit kelam malam ini. Mendung, memang. Bukan hanya malam, tapi batinku pun demikian.
Tiupan angin tak kunjung berhenti sejak siang tadi. Kota tempat tinggalku memang terkenal dengan sebutan kota angin. Padahal, kini telah memasuki musim penghujan tetapi angin masih saja bertiup dengan kencang dan entah mengapa aku sangat membencinya di waktu sekarang ini. Angin kencang yang bertiup hanya mampu menghadirkan kembali ingatan akan Rayhan.
           “Ji, aku bangga terlahir di kota angin ini.”
“Mengapa demikian?”
           “Karena aku menemukanmu. Jihan yang tak mungkin aku temukan di kota-kota lain di belahan bumi manapun. Bolehkah aku menggenggam jemarimu? Aku tahu, kau merasa dingin dan kau harus mempercayaiku karena mulai saat ini, aku akan selalu membuatmu merasa hangat.”
Kubenamkan wajahku yang aku rasa kian hari kian lelah dalam dekapan hangat kain tipis halus yang sering mereka sebut selimut. Ingin sekali rasanya aku meneteskan butiran air berharga dari mataku untuk ke seribu kalinya atau bahkan lebih detik ini juga. Namun sial, suara ketukan pintu dari luar kamar semakin jelas terdengar. Dan aku yakin, Fadly tengah berdiri dengan ekspresi wajah yang menunjukkan kemarahan seperti sebelum-sebelumnya karena aku yang selalu enggan membukakan pintu kamar setelah sekian lama ia berteriak dan mengetuknya. Dengan terpaksa, kulepaskan dekapan hangat selimutku dan bergegas menuruni tempat tidur untuk membukakan pintu kamar. Aku tak ingin Fadly kalap dan mendobraknya.
“Kali ini, apa yang kau mau?” Tanyaku segera ketika aku mambukakan pintu kamar yang belum sempat Fadly dobrak. 
“Aku ingin kau melupakan Rayhan.” Jawab Fadly santai.
“Kau gila.” Kataku sambil bergegas menutup kembali pintu kamarku. Namun sebelum tindakan itu berhasil, Fadly sudah menahan pintu kamarku terlebih dahulu. Oh please send help.
“Apa maksudmu?” Tanya Fadly sambil menatap mataku berani. Tatapan penuh kemarahan. Dan tatapan ini sudah sering ia lemparkan padaku saat aku mencoba membela Rayhan yang jelas-jelas telah mengabaikanku. Well, I’ll be damned!
“Anggap saja aku tak pernah mengatakannya. Enyahlah, aku ingin berdiam diri di kamar.” Kataku seraya menunduk, tak berani menatap matanya kembali.
 “Berjanjilah padaku, kau akan melupakannya.” Sahut Fadly kemudian. Aku menghela napas dibalik perasaan tertekan. “Mengapa diam? Cepatlah berjanji! Apa kau ingin terus-menerus hidup dalam harapan-harapan kosong?” desak Fadly kemudian. “Aku mohon, lupakan Rayhan atau aku tak akan memberikan tempo untuk tunggakan kamar kostmu lagi.”
Aku kembali terdiam. Dari dulu aku tidak pernah menyukai apa yang dinamakan pilihan. Namun aku selalu saja harus memilih. Dan memilih satu dari dua pilihan yang sama sekali tak ingin aku pilih itu benar-benar bisa membuatku terbunuh secara perlahan. Membiarkan ancaman Fadly benar-benar terjadi atau merelakan kenangan akan Rayhan berlalu begitu saja? Oh God please send help again.
Let’s promise, Ji!”
“Baiklah.” Ucapku sambil menganggukan kepalaku pelan namun aku tak bersungguh-sungguh dengan janjiku. Karena aku yakin, Rayhan masih tetap akan berdiam diri di sana, di kepalaku.
“Good girl.” Sanjung Fadly sambil mengacak rambutku keras. Aku tak pernah menyukai ini tetapi mengapa Fadly selalu melakukan ini padaku? Ketika aku mengiyakan kehendaknya ketika itulah ia akan melakukannya. Aku benar-benar membenci tindakan konyolnya!
“Menjauhlah dari pandangan mataku!”
“Take it easy, I just wanna say I’m deeply obliged to you.”
“Hentikan omong kosongmu!”
“Aku tidak sedang membual. Aku benar-benar khawatir dengan keadaanmu. Jika aku bisa menghadirkan Rayhan ke hadapanmu saat ini juga, maka akan segera kulakukan tanpa perlu berpikir dua kali. Namun itu terlalu mustahil. Aku hanya bisa menyuruhmu untuk melupakannya, dengan begitu kau bisa kembali ceria seperti dulu.” Kata Fadly lembut. “Satu hal yang perlu kau tahu, masih banyak orang yang perduli terhadapmu dari sekedar Rayhan. Hari ini, kau sudah cukup lama berdiam diri di dalam kamar, keluarlah.” Lanjutnya lagi seraya melangkahkan kakinya, lebih mendekatkan diri ke arahku.
Aku segera membanting pintu kamarku dengan keras.
Apa yang akan ia lakukan?
Aku segera menghempaskan tubuhku pada tempat tidur. Fadly benar, all Ray said were just pretty lies! Ini jelas salahku. Salahku yang membiarkan diriku sendiri menderita dalam kurun waktu yang sangat lama. Salahku karena aku tak pernah mengindahkan apa yang Fadly ucapkan. Salahku karena aku pun nyatanya tak pernah membenci Ray setelah apa yang ia perbuat. Ia menelantarkanku, bertahun-tahun tanpa kabar padahal seharusnya ia bisa meluangkan waktunya sebentar saja untuk menghubungiku. Dia kekasihku. Kekasih yang seharusnya dapat melindungiku dari dingin angin menjerat di kota kelahiranku ini. Kekasih yang seharusnya dapat mendekapku dan membiarkan bahunya menjadi tempat untuk wajahku membenamkan diri dan meneteskan air berharga dari mataku. Aku terlanjur mencintainya dan membiarkan cinta ini mendarah daging selama bertahun-tahun. Bertahan seorang diri tanpa ada upaya apapun untuk sekedar melenyapkan perasaan ini. Kucoba pejamkan kedua kelopak mataku, berharap bisa tertidur pulas hingga pagi menjelang.
Perlahan, aku membuka mataku secara bersamaan. Samar-samar kulihat jam yang terpajang di dekat jendela kamarku. Oh My God, it’s ten twenty-nine! Ternyata masih malam, keluhku kesal.
Aku mendengus seraya menghempaskan dekapan erat seorang “sahabat”. Kini, kurasakan hembusan angin menyusup kedalam tubuhku bahkan jiwaku. Benar-benar dingin, membuatku menggigil. Angin seakan sengaja ingin membuatku lebih menderita.
Aku mengucek mataku segera, terasa sembab bahkan lebam. Air mataku sudah tumpah sebelum aku terlelap tidur. Kini, aku merasakan bahwa kerongkonganku mengering. Bergegas aku turun dari tempat tidurku dan hendak mengambil air minum di ruang tengah kost. Tapi aku khawatir bahwa Fadly sedang berada di sana seperti malam-malam sebelumnya. Karena ia biasa menghabiskan malam untuk bermain PS bersama anak-anak kost laki-laki. Apa yang harus aku katakan pada Fadly jika ia melihat dan menyadari hal ini? Tidak. Fadly tidak boleh tahu bahwasannya aku menangis. Aku seorang jenius. Jenius yang pandai menyembunyikan segala sesuatu yang ingin aku sembunyikan. Fadly, tidak boleh tahu. I’m stronger now. Semoga kali ini berhasil.
Kugerakan kakiku menyentuh lantai kamar. Kulangkahkan ia menuju sebuah cermin yang menggantung di sudut dinding kamarku. Aku mematung di hadapan cermin untuk beberapa saat sebelum aku keluar kamar. Memandangi wajahku yang nampak konyol. Detik berikutnya, aku pun tersenyum kecil seraya mengusap rambutku dengan perlahan. Rambut yang senantiasa diacak Fadly. Rambut yang sejak satu minggu lalu tidak kucuci.
“Lengket.” Kataku pelan. Masih mengusap helai demi helai rambutku.
Kulanjutkan langkahku menuju pintu. Perlahan tetapi pasti, aku mulai mengayunkan gagangnya hingga terbuka karena kebetulan aku lupa menguncinya malam tadi.
“Sudah bangun kau, Ji?”
Kudengar suara serak Fadly tepat setelah aku keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali. Aku menoleh dan mengangguk bermaksud mengiyakan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Aku yakin kau akan keluar. Maka dari itu, aku tak berniat sedikit pun untuk beranjak.”
Rupanya Fadly masih berdiam diri di depan pintu kamarku sedari tadi.
“Kau tampak sangat cantik dengan mata yang membengkak seperti itu.” Kata Fadly santai. Aku tersenyum ke arahnya dan memukul pundaknya pelan. Entah mengapa aku merasa bahwa tindakan yang ia lakukan terhadapku sekarang ini begitu tulus. “Aku akan mengajakmu ke suatu tempat, kau mau?”
“Aku tak ingin pergi kemana pun, aku hanya ingin minum.”
“Akan kubuatkan segelas susu. Kau bergegaslah membersihkan badanmu lalu kita akan pergi.” Kata Fadly lagi disambut oleh senyumanku.
“Tunggu, ini sudah hampir tengah malam, Fadly. Aku tak biasa keluar malam.” Kataku ragu.
You only live once, Ji, don’t waste it. Ayolah, Jihan. Aku berjanji, hanya sekali saja untuk malam ini, untuk new year eve.”
Well.” Jawabku pada akhirnya.
***
“Mengapa kau mengajakku ke tempat ramai seperti ini?” Tanyaku setelah Fadly mematikan mesin motornya lalu mengajakku berjalan mengelilingi bundaran pesawat yang sedang menjadi trending topic di kota Majalengka ini.
“Kau perlu hiburan, Jihan. Kau pikir aku tak tahu kau menangis hampir sepanjang malam?” Jawab Fadly mendelik ke arahku, membuatku terhentak.
“Oke, Fad, aku tahu kau mengkhawatirkanku melebihi apa pun di dunia ini, tapi kau tak perlu membawaku ke tempat seperti ini, terlalu ramai. Aku tak suka keramaian, kepalaku bisa mendadak pusing.” Kataku panjang lebar seraya memperhatikan keadaan di sekelilingku yang dipenuhi oleh manusia yang tengah mengantri agar bisa berfoto dengan replika pesawat terbang yang terpampang dengan cukup besar karena kebetulan terdapat beberapa lampu taman yang sangat benderang di sekitar replika pesawat terbang tersebut sehingga memungkinkan untuk melakukan sesi foto di malam hari seperti sekarang. Ada pula yang tengah berkencan seraya berpegangan tangan dengan sangat romantis. “Kita pulang sekarang.” Kataku lagi, kali ini sambil menarik lengan Fadly dan menyeretnya menuju parkiran motor. 
Aku tak menyangka, Majalengka yang jika hari-hari biasa terlihat sangat sepi seperti kota mati mendadak dipenuhi lautan manusia menjelang perayaan tahun baru seperti sekarang.
“Kau tak pernah sekali pun menghargai usahaku, Ji.” Kata Fadly dengan nada yang nampak kecewa. "Kita baru saja sampai, bahkan belum melakukan apa pun."
“Kau yang tak mengerti diriku! Ray tahu apa yang aku suka. Ray juga tahu apa yang tidak aku suka. Ray tak pernah mengajakku mengunjungi tempat ramai seperti ini sedangkan kau―”
            “Cukup, Jihan! Aku bukan Ray. Jangan sebut nama itu lagi dihadapanku. Aku membencinya setelah apa yang ia perbuat terhadapmu. Dia laki-laki, seharusnya dia bisa bersikap gentle. Teknologi sudah sangat canggih.” Kini Fadly membentakku dengan cukup keras, memberikan tamparan keras kepada hatiku.
Apa yang dikatakannya benar, seharusnya Ray bisa menghubungiku melalui facebook, twitter atau mungkin melakukan video call melalui skype.
“Naik!” Ujar Fadly kemudian. “Kita pulang.”
“Kau marah?”
Aku melihat Fadly menggeleng pelan.
“I beg your pardon.” Pintaku merasa bersalah.
“Don’t mention it.” Jawab Fadly singkat.
Aku mengela napas sejenak, menyesali apa yang telah aku lakukan barusan. Seharusnya aku tak perlu membeda-bedakan Fadly dengan Ray setelah apa yang Fadly usahakan untuk mengiburku.
Kini, Fadly mengendarai motor Satria F-nya dengan kecepatan 40 km/jam menyusuri jalan raya yang ramai akan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Aku bisa melihat dengan jelas, cahaya warna-warni Majalengka yang memukau di malam hari. Cahaya yang berasal dari lampu-lampu pertokoan yang telah tutup, kendaraan-kendaraan yang melaju dan berbagai sumber cahaya lainnya yang membuat suasana malam menjadi begitu romantis, setidaknya bagiku meskipun kini aku tidak sedang diboncengi oleh Ray, kekasihku.
Kami pun akhirnya tiba di kostan setelah kurang lebih setengah jam menempuh perjalanan. Fadly masih memarkir motornya di garasi, sedangkan aku berjalan duluan menuju kamar kost-ku.
Watch out!” Teriak Fadly ketika melihatku yang hampir melangkahkan kaki kearah lubang besar di halaman kost. Aku begitu tak habis pikir, mengapa lubang yang cukup besar dan membahayakan ini dibiarkan begitu saja padahal lubang ini sudah ada semenjak aku menempati hari pertama kamar kost.
Aku terhentak kaget, alih-alih mengurungkan niat untuk tidak meneruskan langkahku, aku justru menginjakan kakiku pada lubang tersebut. Akibatnya aku terjatuh.
Aku melihat Fadly menutup mata dengan kedua telapak tangannya sambil mengumpat padaku pelan. “Bodoh! Hampir setiap hari kau berjalan melewati ini.” selanjutnya Fadly tertawa sambil berjalan kearahku, “sakit?” Tanya Fadly sambil menjulurkan tangannya isyarat ia akan membantuku untuk bangkit.
Aku menggeleng cepat dengan wajah cemberut. Kemudian mengusap kakiku pelan. Fadly menatapku dengan seksama, menghela napas lalu berjongkok disebelahku karena aku masih juga enggan untuk bangkit.
“Bukankah kau sedang marah padaku? Lantas mengapa kau ingin membantuku?” Tanyaku pada Fadly. “Kau mengkhawatirkanku?” Lanjutku.
Ia mengangguk. Aku menunduk ketika ia hendak menatapku lagi.
Kini, pandangan Fadly tertuju pada tumit kakiku lagi. “Kakimu berdarah.”
“Ah?” Hentakku tak menyadarinya, aku melihat tumitku yang kini berlumuran darah. Aku mencoba menahan rasa sakit.
“Biarkan saja, tak usah dibersihkan.” Ujarku menggenggam tangan Fadly ketika ia hendak mengambil air untuk membersihkan lukaku.
“Tak usah menolak.” Paksa Fadly sambil menepis tanganku yang mencoba mengurungkan niatnya.
            “Akan terasa sangat perih.” Aku menjauhkan kakiku dari tangan Fadly yang sudah memegang segayung air.
“Aku bilang diam.” Fadly menarik kembali kakiku secara paksa. “Kau ingin kakimu diamputasi?” Lanjutnya lagi membuatku terdiam pada akhirnya. Aku mengalah.
Fadly berlaga sok tahu dengan menganggukan kepalanya mantap seolah-olah dirinya adalah seorang ahli medis yang begitu memahami dunia kesehatan. Kini dirinya mulai membersihkan lukaku dengan sangat hati-hati. Aku memejamkan kedua mataku serta menggigit bibir bawahku menahan rasa perih akibat siraman air pada lukaku. Sesekali aku pun merintih kesakitan, menangis dan berteriak namun segera di hentikan oleh Fadly dengan membekam mulutku keras. Fadly tidak menyukai ketika seseorang menangis dihadapannya. Menurutnya itu sangat mengganggu dan membuatnya bingung.
“Lepaskan syalmu!” Pinta Fadly sambil menyodorkan telapak tangan kanannya.
“Apa?” Tanyaku histeris. “Aku tak mau.”
Fadly menarik paksa syal yang sedang aku kenakan, membuatku sedikit meradang.
“Syalku bisa kotor, bodoh! Itu hadiah dari ayahku.”
“Kau bisa mencucinya nanti, yang penting lukamu sembuh.” Ucap Fadly tegas dan mulai membalutkan syal pink tanpa motif pada luka di kakiku.
Aku terpekur tak dapat berkata-kata lagi. Kutatap Fadly lekat-lekat tanpa Fadly sadari. Thanks God, telah mengirimkan seorang sebaik Fadly—Ucapku dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.
Mengapa Fadly selalu luput untuk aku syukuri? Aku terlalu sibuk dengan kenangan masa laluku bersama Ray yang mustahil untuk terulang. Fadly, pria itu selalu ada untukku.
“Oke, finish.” Ucap Fadly sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya. Aku masih terpekur ketika Fadly menatap diriku. “Gratis kok, Ji. Kau tak usah khawatir.”
“Ah?” Aku terkejut dan tersenyum, “thank you very much
“Ayo.” Ajak Fadly sambil merengkuh tubuh mungilku.
Aku pun bangkit dengan dibantu oleh Fadly. Ketika aku hendak melangkahkan kaki ternyata kakiku masih terasa sakit dan tak mampu menopang tubuhku sendiri akhirnya aku kembali terjatuh. Melihat aku yang terjatuh untuk kedua kalinya, Fadly tak tinggal diam, ia segera berjongkok membelakangi tubuhku.
“Naik!” ujarnya santai.
“Apa yang kau lakukan? Aku tak mau.” Aku pun refleks memberi jawaban, aku sendiri tak habis pikir mengapa aku menolak hal yang justru sangat aku butuhkan. Aku memukul dahiku sendiri dan berharap bahwa Fadly akan memaksanya.
“Mau sampai kapan kau berdiri di situ?”
Hati kecilku bersorak bahagia. Aku pun melempar senyum dan segera merangkulkan lenganku pada leher Fadly. Fadly mulai berdiri dan berjalan.
Aku melihat sebagian penghuni kost tengah terduduk di kursi luar, menanti kembang api yang akan dinyalakan tepat pukul dua belas nanti.
“Romantis sekali kalian ini.” Teriak salah satu penghuni kost ketika kami melewat ke depannya.
 “Napasmu terasa begitu hangat.” Komentar Fadly ketika merasakan hembusan napasku  pada lehernya. “Kau malu?”
“Tidak.” Bisikku pelan.
“Yakin?” Tanya Fadly lagi.
“Sungguh. Terimakasih banyak.” Jawabku.
“Kau tahu? Aku pikir, kau merupakan wanita paling beruntung di dunia ini.” Ujar Fadly sambil meneruskan langkahknya dan mencoba tak mempedulikan tatapan orang-orang.
“Mengapa demikian?” Tanyaku antusias.
“Karena kau adalah satu-satunya wanita yang merasakan kehangatan punggungku hahaha.” Celetuk Fadly sambil tertawa kecil.
Aku terkekeh geli, ucapan Fadly barusan sungguh ingin membuatlku tertawa terpingkal-pingkal. Aku tak menyangka, Fadly mampu melemparkan lelucon gombal macam itu terhadapku.
“Fad?” Sapaku pelan.
“Ya?” Jawab Fadly singkat.
Happy new year. Semoga hidupmu lebih mengasyikan di tahun ini.” Kataku kemudian ketika melihat warna warni kembang api di udara, pertanda telah memasuki tahun baru.
Fadly menguatkan pegangan tangan yang dipakai untuk menopang tubuhku tanpa merespon ucapanku. Ia lalu menurunkanku di sebelah kolam ikan dekat taman kecil di luar kost.
“Kau tahu? Aku tak mengharapkan apa-apa untuk diriku sendiri di tahun ini. Aku hanya ingin kau bahagia.” Bisik Fadly pelan membuatku terharu, ingin meneteskan air mata.
“Apa yang membuatmu bersikap demikian? Bukankah kau selalu bilang bahwa aku ini wanita yang menyebalkan?”
“Satu kata. Cinta.” Jawabnya to the point. "Sudah sangat lama, aku menyimpan semua ini." lanjutnya lagi membuat napasku semakin tercekat.
Jantungku seakan terlepas dari tempatnya. Tubuhku terasa tengah tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Benarkan Fadly mencintaiku?
Kami pun terdiam dan segera menatap langit yang dipenuhi cahaya kembang api. Namun, aku tersadar bahwa langit malam sudah semakin pekat, pertanda akan turun hujan. Kilatan-kilatan cahaya pun terlihat di sana. Dan benar saja karena beberapa detik berikutnya, hujan dengan intensitas yang cukup besar pun turun secara tiba-tiba membasahi bumi tak terkecuali tubuhku dan tubuh Fadly.
“Kau tak apa?” Tanya Fadly saat melihat tubuhku yang menggigil kedinginan.
I’m tryna be okay.” Jawabku dengan bibir yang bergetar.
             Hujan turun! Hujan telah turun! Hal yang aku nanti-nantikan akhirnya datang. Kini tepat pukul 00.00 dini hari dan Rayhan belum juga menemuiku. Dan aku akan menepati sumpahku sekarang juga, aku akan melepaskan Rayhan, tak perduli seberapa sulit dan sakitnya hatiku. Fadly benar, aku harus berbahagia. Hidup dalam bayang-bayang Rayhan juga terasa lebih menyakitkan.
Aku menolak saat Fadly hendak menggendongku masuk.
“Aku ingin di sini. Tolong, jangan paksa aku.”
“Luka di kakimu bisa menjadi semakin parah.”
“Aku tak mempedulikannya! Hatiku tentram. Hatiku tak merasa sakit. Telah lama aku menanti hujan turun. Do’aku terkabul hari ini. Di tahun yang baru. Dengan seseorang yang baru di sisiku.” Aku memberi penjelasan kepada Fadly dengan sangat antusias. Selanjutnya, kutengadahkan wajahku menatap langit sambil tersenyum puas.
“Kau kedinginan.” Kata Fadly seraya melepaskan sweter yang tengah ia kenakan lalu meletakannya pada bahuku. “Sudah sangat basah namun aku tengah mencoba untuk bersikap sedikit romantis.” Sambung Fadly lagi.
I’d be much obliged.” Ujarku  masih dengan bibir yang bergetar namun tidak sedahsyat sebelumnya.
Don’t mention it.” Balas Fadly tenang
Aku membalikan tubuhku menatap Fadly lekat-lekat. Belum sempat Fadly membalas tatapanku, aku sudah terlebih dahulu menghamburkan diri ke dalam pekukannya. “Terimakasih banyak, Fadly. Aku terlalu bodoh untuk menyia-nyiakan orang sebaik kau. Kau ingin balasan apa dariku?”
“Aku tak ingin apa pun. Bahkan aku tak berharap kau akan membalas cintaku. Aku hanya ingin kau bahagia dengan siapa pun. Tapi bukan dengan Rayhan. Kau menghabiskan tahun-tahunmu hanya untuk menangisi pria itu. Aku benci melihatnya.” Jawab Fadly dengan nada suara yang bergetar.
Detik berikutnya, aku mengajak Fadly untuk merebahkan diri di atas rerumputan. Tetesan-tetesan air hujan pun jatuh mengeroyok tubuh kami yang sama-sama menggigil kedinginan.
Inilah hidup. Dingin.
Inilah hidup. Baru.
Inilah hidup. Bahagia.
Kenyataan tengah berbicara kepadaku melalui dingin menjerat. Melalui butiran air hujan yang menetes. Melalui langit malam yang hitam pekat. Berbicara tentang hidup, tentang melupakan masa lalu, tentang menjalani kehidupan baru bersama orang yang begitu perduli terhadapku.
“Kau bahagia?” Tanya Fadly.
“Bahagia.” Jawabku singkat, speechless. “Aku ralat, begitu bahagia karena kemarau panjang telah berganti hujan dan memberiku secercah harapan baru untuk hidup lebih baik.”
“Syukurlah. Aku selalu menantikan hari ini tiba. Cukup lama untuk terjadi. Namun Tuhan tahu apa yang terbaik untukmu.”
I’ll try, Fad.”
“Mencoba apa?”
“Mencoba membalas cintamu.” Jawabku pada akhirnya, membuat senyum di bibir Fadly mengembang dengan sempurna. Tak ada yang lebih membahagiakan lagi untukku detik ini. “My world has changed because of you. Thanks a lot.” Kataku lagi seraya membalikan tubuhku mengahadap Fadly lalu mengecup pipi kanan pria itu dengan lembut. "Satu lagi, jangan pernah menangih uang tunggakan kamar kost-ku. Aku akan membayarnya nanti."
Fadly tersenyum dan balas mengecup keningku dengan lembut, "I love you."
Yang ibuku pernah katakan ternyata benar. Hujan membawa kebahagiaan tersendiri. Maka biarkanlah mereka turun, menghantarkan kebahagiaan dari setiap tetesnya.

-Selesai-
Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi #NulisKilat Bentang Pustaka dan PlotPoint (3239 words)

12 komentar:

  1. Keren banget, kak! Udah kayak penulis professional aja hehe :D

    Menurut aku, ceritanya ringan tapi tetep seru untuk dibaca, apalagi penggalian karakternya juga dapet banget. Good luck ya, kak! :)

    BalasHapus
  2. Halo, Kak Deta! :D Ini dari si penulis (another) Deta yang tinggal di Banjarmasin. Hihihi. Terima kasih ya atas kunjungannya di blog saya. Cerita ini bagus banget, emang kadang kita harus melihat lebih dekat kebahagiaan yang ada di depan mata, bukan malah nunggu yang jauh2. Hihihi. Semoga berhasil ya kak! Keep on writing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih banyak, ya. Semangat juga :)

      Hapus
  3. Keren-keren..pembaca seolah bisa merasakan apa yang ada pada kisah itu. Good Job My sist ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, makasih ya, Hani, udah bersedia mampir ^_^

      Hapus
  4. Daebak deta crtanya huhuhu i love fadly :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya udah baca *lempar Fadly*

      Hapus
  5. owoww..!! dan lagilagi kmu bkin aku kagum. ckck -_-
    suka bgt sma yg ini :3
    “Ji, aku bangga terlahir di kota angin ini.”
    “Mengapa demikian?”
    “Karena aku menemukanmu. Jihan yang tak mungkin aku temukan di kota-kota lain di belahan bumi manapun. Bolehkah aku menggenggam jemarimu? Aku tahu, kau merasa dingin dan kau harus mempercayaiku karena mulai saat ini, aku akan selalu membuatmu merasa hangat.”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini pasti Mia -_- Haha Mia mupeng deh keliatan :P

      Hapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^