Kamis, 09 Januari 2014

Review Evergreen

Judul buku: Evergreen
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Grasindo 2013
Jumlah halaman: 203 halaman
ISBN: 978-602-251-086-4
Rating: 5/5
Konichiwa! Selamat datang di Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!

Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru, juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?

Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?

"Secara harfiah, evergreen berarti pohon yang selalu berwarna hijau sepanjang tahun. Bisa pula diartikan sebagai selamanya. Aku ingin kafe ini, juga orang-orang di dalamnya, bisa bersahabat selamanya, seperti cemara yang tak pernah berubah warna." (Yuya, halaman 195)

Bercerita tentang Rachel Yumeko River yang awalnya berprofesi sebagai seorang editor di Sekai Publishing namun mengalami pemecatan juga dijauhi teman-teman baiknya yang membuatnya depresi sehingga ia berniat melakukan jisatsu (bunuh diri). Paska pemecatan, tak banyak yang ia lakukan selain menangis dan memecahkan semua gelas yang ia punya sampai tak tersisa sedikitpun. Hingga suatu hari, ia datang ke kafe Evergreen dan mendapat penawaran dari Yuya, sang pemilik kafe untuk bekerja di tempatnya. Awalnya Rachel menolak, namun Yuya tetap bersikeras dan memaksa.


"Kalau Yuya berhasil memaksa mantan editor bekerja sebagai pelayan, dia tentu bisa terus-terusan mengikuti seorang gadis bahkan jika gadis itu ingin menceburkan diri ke sumur." (Halaman 92-93)

Di awal-awal baca, sempat kesal terhadap teman-teman Rachel yang bersenang-senang di atas penderitaan sehabatnya sendiri namun ada hal lain yang tak terduga, yang membuat saya mengangguk dan menyetujui bahwa Rachel memang pantas mendapatkannya. Rachel sendiri tergolong orang yang egois dan tak pernah memikirkan orang lain. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tentu kesenangan untuk dirinya sendiri.

"Kau hanya ingin menerima, kau ingin diperhatikan, disayangi, dipedulikan. Tak pernahkah kau menanyakan pada dirimu sendiri berapa banyak kau telah memberi? Berapa banyak yang telah kau lakukan untuk sahabat-sahabatmu?" (Mei kepada Rachel, halaman 79)

Di kafe Evergreen lah Rachel bertemu dengan orang-orang yang memiliki masalah jauh lebih berat dari dirinya. Di Evergreen pula lah, Rachel banyak mengetahui tentang masalah-masalah orang yang bekerja di sana yang biasa diutarakan dalam gathering "kenangan".

Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dalam novel ini, terlalu banyak :') Tentang menghargai orang lain, memafkan kesalahan orang lain, mencintai dengan tulus dan masih banyak lagi. Seperti novel-novel Prisca yang sudah saya baca, Evergreen dikemas dengan begitu apik dan mengaharukan. Karya yang indah dengan menyuguhkan pelajaran dan pengetahuan yang berharga.

Novel ini mampu membuat saya menangis. Saya menangisi Rachel yang putus asa karena ditinggal sahabat-sahabat dekatnya. Saya menangisi Fumio yang dengan sabar menjaga adiknya, Toshi, meski Fumio tahu bahwa ia akan dilupakan sama halnya dengan kisah Kari. Semua konflik dalam novel ini begitu cerdas dan berhasil mengaduk-ngaduk emosi saya T_T

Latar Jepang yang digambarkan dengan sangat baik, karakter tokoh yang benar-benar kuat, konflik yang tak biasa dan segala sesuatu dalam novel ini benar-benar pantas untuk diberikan 5 bintang. Hehehe...

Banyak sekali kalimat favorit dalam novel ini. Diantaranya:
  1. "Aku berharap kenangan itu tak pernah ada. Dengan begitu, tidak ada yang perlu kutangisi." (Kari, halaman 40-41)
  2. "Begitulah oyaji (ayah) menyayangi kalian. Seperti empat musim. Jika yang satu berakhir, musim berikutnya akan meneruskan." (Halaman 100)
  3. "Seburuk apapun penulis, mereka adalah klien yang harus kita hargai. Mereka menulis dengan jerih payah. Dengan harapan." (Halaman 114)
  4. "Memaafkan. Kata yang lucu sekali, bukan? Sesuatu yang sulit sekali diberikan. Padahal dengan melakukan itu, berarti kita menyelamatkan hati kita sendiri." (Halaman 118)
  5. "Selama ini kau selalu merawatku, selalu berusaha membuatku senang, tapi pernahkah kau memikirkan dirimu sendiri? Kau bukan pabrik kebahagiaan, kau juga terluka, aku tahu kau terluka!" (Toshi kepada Fumio, halaman 137)
PS: Saya ingin bekerja di Evergreen hehe :P

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

4 komentar:

  1. Sempat nangis? Aku kok ngga bisa nangis di novel ini ya :D Tapi cukup suka sama novel ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih hehehe akunya terlalu menjiwai :')

      Hapus
  2. tulisan mbak Prisca selalu unik dan memorable banget, belum kesampean baca ini :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. 100% setuju!!!! Ayo, Kak dibaca!!!! Inshaa Allah gak nyesel hehehe

      Hapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^