Sabtu, 04 Januari 2014

[Review] Nyanyian Hujan karya Sintia Astarina

Judul buku: Nyanyian Hujan
Penulis: Sintia Astarina
Penerbit: Grasindo
ISBN: 978-979-081-899-6
Jumlah halaman: 205 halaman
Rating: 2/5

Blurb:
Saat rintik-rintik itu datang, aku tahu...
akan ada hujan yang hadir di antara bening kristal
yang menetes perlahan di matanya...
Belumkah cukupkah gumpalan awan mendung tinggal di dalam rumah hatiku?
Lalu, dari mana sang matahari akan bangun
dari lelap tidurnya?
Andai aku bisa mengejar kunang-kunang
sang pemburu waktu...
akan kukunci sisa-sisa hidupku bersama nyanyian hujan.
Bahagiaku terbawa angin bersama
kumpulan debu menyedihkan.
Hancur... tak tersisa sedikitpun tawa
yang mengembang di bibir.
Sebab tawa itu telah meramu emosi menjadi desakan luka.

"Aku pun menyadari ada hidupku yang bias....
Namun, hujan dan kamu adalah cinta!"

Aku pun menyadari ada hidupku yang bias. Namun, hujan dan kamu adalah cinta.

Bercerita mengenai Clavesta Liandy, gadis penyuka hujan berusia 18 tahun yang tinggal bersama kakak laki-lakinya, Clarevin, setelah orang tuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat. Vesta yang kerap kali merasa kesepian dan merindukan kedua orang tuanya ternyata harus ditinggal juga oleh Revin karena pria itu memutuskan mengambil pekerjaan sebagai staf marketing di sebuah perusahaan di Aussie. Sejak saat itu, Revin mengutus *tsah* Kenneth, sahabat lamanya untuk menjaga dan memantau Vesta. Kenneth pun tak ingin mengecewakan Revin, akhirnya ia mengiyakan permintaan Revin untuk menjaga adiknya, namun tindakan Kenneth yang terlampau protektif justru malah membuat Vesta risih, apa lagi ketika Vesta dilarang untuk menemui Dio, pacarnya. 

Di antara nyanyian hujan, masih tersisa sepenggal cerita yang belum usai...

Testimoni Sitta Karina di bagian belakang sampul mengatakan bahwa novel ini mengusung HIV/AIDS. Oke, mungkin kejutan utama sudah terlampau bocor dan saya mengira bahwa akan terasa sangat membosankan membaca sebuah cerita yang konflik utamanya justru sudah disebutkan. Sepanjang membaca, saya kurang begitu menikmati karena hanya menunggu kapan si tokoh utama terjangkit virus mematikan tersebut. Namun rupanya, penulis memberi kejutan tak terduga. Ada something yang memaksa saya untuk terus membaca sampai halaman akhir novel ini dan berhasil membuat saya terkejut. Untuk alur, terkesan sangat lamban. Bosan, apalagi penulis hobi sekali membahas sesuatu yang sebelumnya telah dibahas, tidak efisien.

Ada beberapa bagian yang mengganjal. Di halaman 24, terjadi ketidakkonsistenan penulis dalam menggunakan sudut pandang yang tiba-tiba berubah menjadi POV orang pertama tunggal padahal sebelumnya menggunakan POV orang ketiga. Kalaupun monolog, seharusnya dimiringkan. Kemudian di halaman 72, kesalahan struktur kalimat Bahasa Inggris untuk kalimat interogatif. Di halaman 84 tertulis, Vesta tertarik untuk membuat sebuah tato gambar kalajengking pada punggung kanannya. Tetapi kemudian di halaman 85 tertulis, Vesta terkesima sendiri melihat tangannya yang sudah memiliki tato. Dan lagi-lagi di halaman 147 tertulis, "Eh, sejak kapan lo punya tato di punggung?" Jadi yang benar yang mana? Tangan atau punggung? Hehe...

Kalimat favorit:
  1. Ketika harus kehilangan orang yang kita sayangi, pasti menjadi hal yang mengejutkan. Entah itu kepergian maupun kematian. Sedih, bingung, gundah, dan sepi! Sesuatu yang tak dapat dibayarkan oleh apapun. Namun, hidup harus tetap berjalan. Dan diri kita sendiri yang akan menentukan langkah hidup berikutnya. (Hal. 22)
  2. Bahagian itu emang nggak bisa dicari karena bahagia itu datangnya dari hati kita masing-masing. Namun, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk tetap menjaga kebahagiaan itu. (Hal. 120)
Ceritanya bisa jauh lebih bagus kalau konfliknya lebih ditonjolkan dan dijabarkan secara rinci, tidak hanya sekilas karena menurutku tema HIVnya udah keren banget...

---------------------------------2/5 stars--------------------------------------
Indonesian Romance Reading Challenge 2014

6 komentar:

  1. premis ceritanya bagus nih, jadi penasaran apalagi ada pendapat Sitta Karina, penulis favorit aku :p
    bacanya bisa jeli banget sih :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh.. Kak Sitta penulis favorit Kakak, ya? Ayo dibaca ^^ Hihi.......

      Hapus
  2. Halo Deta, terima kasih banyak ya sudah me-review novelku. Bakal jadi perbaikan untuk novel berikutnya. Thanks and have a nice day ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Kak ^_^ Semangat ya :)

      Hapus
  3. HIV/AIDS, ya. aku suka tema yang berhubungan dengan penyakit tokohnya. Mungkin bisa masuk wishlist-ku. ^^

    BalasHapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^