Sabtu, 18 Januari 2014

Review Rectoverso

Judul buku: Rectoverso
Penulis: Dee
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: 170 halaman
ISBN: 978-602-7888-03-6
Kategori: Kumpulan cerita pendek
Keterangan: Re-read
Rating: 4/5

Paperback:
Dewi Lestari yang bernama pena Dee, kali ini hadir dengan mahakarya unik dan pertama di Indonesia. "Rectoverso" merupakan hibrida dari fiksi dan musik, terdiri dari sebelas cerita pendek dan sebelas lagu yang bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama. Keduanya saling melengkapi bagaikan dua imaji yang seolah berdiri sendiri tapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan. Inilah cermin dari dua dunia Dewi Lestari yang ia ekspresikan dalam napas kreatifitas tunggal bertajuk "Rectoverso". Dengar fiksinya. Baca musiknya. Lengkapi penghayatan anda dan temukanlah sebuah pengalaman baru.

"Ya. Diam! Diam di tempat. Tidak ada lagi usaha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yakin di luar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit..." (Curhat Buat Sahabat, halaman 8)

Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengboarkannya dengan sembroo. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia.  (Malaikat Juga Tahu, halaman 22)

Tolong aku. Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada." (Firasat, halaman 113)

Aku merindu hingga gagu. Aku mendamba hingga kehilangan daya. (Tidur, halaman 148)

Itulah beberapa cuplikan kalimat yang terdapat pada buku Rectoverso. Dimana Rectoverso sendiri merupakan sebuah buku kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Dewi "Dee" Lestari yang juga merupakan seorang penyanyi san songwriter. Rectoverso sebenarnya adalah satu paket kesatuan antara karya sastra dan musik yang terdiri dari 11 judul cerita pendek beserta lirik lagu yang pada awalnya saya asumsikan sebagai puisi hehe.

Seperti yang dikatakan Jay Subiakto, bahwa Rectoverso adalah kombinasi literer dan musik yang merangsang visual namun saya sendiri belum berkesempatan mendengarkan lagu-lagunya kecuali "Malaikat Juga Tahu" dan "Firasat" yang memang sudah cukup terkenal di blantika musik Indonesia.

Rectoverso disajikan dengan bahasa yang indah dan renyah untuk dikunyah -_- namun tidak semuanya karena faktanya ada beberapa cerita yang harus dibaca berulang agar memahami makna cerita secara keseluruhan, 
khususnya untuk saya pribadi yang hampir tak pernah membaca omnibus dengan gaya bercerita seperti yang Dee sajikan dalam Rectoverso.

Saya ingat, beberapa waktu yang lalu, saya pernah berdebat dengan rekan satu kelas saya, Rahmah, mengenai salah satu cerita di buku ini. Saya berpendapat A, sedangkan dia berpendapat B. Setelah berdebat cukup lama mengenai isi cerita, akhirnya saya menyadari sesuatu, bahwa karya Dee ini dirangkai oleh kalimat yang bermakna ambigu. Mungkin seperti itu. Karna memicu pemikiran-pemikiran lain dari pembacanya. Apapun itu, saya tetap mengapresiasi karena cerita-cerita yang Dee sajikan dengan singkat ternyata syarat akan makna, terutama makna kehilangan dan cinta yang tak harus saling memiliki hehehe. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari buku ini.

Judul cerita pendek favorit saya adalah "Hanya Isyarat", cerita pendek ke-5 dari buku ini. Bercerita mengenai seorang wanita yang hanya mampu menghayati pria idamannya melalui punggung yang ia isyaratkan melalui udara, langit, sinar bulan dan gelembung bir. Sementara ia sendiri menjelma sebagai latar tak jelas dan tak perlu diajak bicara. Cerita yang sangat bagus dan mengharukan. :')

"Sahabat saya itu orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang sanggup ia miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki." (Hanya Isyarat, halaman 52)

Sedikit mengutip tulisan seseorang di Goodreads, "membaca Rectoverso ibarat datang ke sebuah restoran mewah dengan menu yang lezat serta mahal namun porsi yang sedikit sehingga saya masih merasakan lapar." Saya setuju dengan analogi tersebut hehe karena saya candu Rectoverso. Kalau saja lebih banyak cerita pendek di dalamnya, mungkin saya akan merasa lebih kenyang ^_^

Indonesian Romance Reading Challenge 2014



5 komentar:

  1. Hanya
    isyarat, setau aku.. ceritanya tentang cewe yg hanya sanggup melihat
    punggung laki2 yang dia sukai deh kok disini karakternya cowo? di
    filmnya juga cewe ah :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk twrbalik, salah nulis. Thanks koreksinya, sudah saya betulkan xD

      Hapus
    2. wkwkwkwk tuhkan :p oke sama-sama :))

      Hapus
  2. cuman beberapa yang aku suka, salah satunya Malaikat Juga Tahu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... iya, Kak, Malaikat Juga Tahu bagus banget :)

      Hapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^