Kamis, 16 Januari 2014

Review Unforgettable; Tentang Cinta yang Menunggu

Judul buku: Unforgettable; Tentang Cinta yang Menunggu
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia, 2012
ISBN: 979-780-541-7
Keterangan: Pinjam dari Nisa
Rating: 4/5

Blurb:
Ini adalah satu kisah dari sang waktu tentang mereka yang menunggu. Cerita seorang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku dan seorang lelaki yang siluetnya membentuk mimpi di liku tidur sang perempuan.

Ditemani krat-krat berisi botol vintage wine yang berdebu, aroma rasa yang menguar dari cairan anggur di dalam gelas, derit kayu di rumah usang, dan lembar kenangan akan masa kecil di dalam ingatan.

Pertemuan pertama telah menyeret keduanya masuk ke pusaran yang tak bisa dikendalikan. Menggugah sesuatu yang telah lama terkubur oleh waktu di dalam diri perempuan itu. Membuat ia kehilangan semua kata yang ia tahu untuk mendefinisikan dan hanya menjelma satu nama: lelaki itu.

Sekali lagi, ini adalah sepotong kisah dari sang waktu tentang menunggu. Kisah mereka yang pernah hidup dalam penantian dan kemudian bertemu cinta


 
"Kita semua hidup dalam penantian." (Hal. 2)

Secara singkat bercerita mengenai pertemuan sepasang manusia yang tak diketahui namanya yakni "perempuan itu" dan "lelaki itu" di sebuah rumah wine milik perempuan itu dan abangnya yang bernama Rangga.
Pertemuan singkat itu nyatanya mampu membuat keduanya merasa nyaman satu sama lain hingga berbagi cerita mengenai masa-masa terkelam dalam hidup mereka.

"Dia hanya sedang menunggu hingga seseorang yang tepat datang. Seseorang yang membiarkannya melepaskan seluruh rahasianya yang paling dalam. Menemaninya dalam labirin yang tak berujung, mengunjungi masa lalunya yang paling kelam." (Hal. 92)

Perempuan itu memiliki masa lalu kelam mengenai cintanya, begitupun dengan lelaki itu. Perempuan itu adalah seorang penulis yang berhari-hari meneruskan tulisannya yang bahkan lebih banyak kosong, ketika lelaki itu tengah berada di hadapannya karena ia tak pernah tahu apa yang hendak ia tuliskan.

"Mencintai seseorang.... mungkin seperti berjalan di atas lapangan es tanpa merasakan dinginnya. Lapisan esnya bisa retak kapan saja, tetapi bagai orang bodoh, kita terus melangkah maju." (Hal. 65)

Buku ke-3 Winna yang saya baca setelah Refrain dan Remember When dan Unforgettable lah yang paling saya suka dari ketiganya. Pertama kali membaca novel tanpa dialog dengan tanda kutip. Dialog ditulis dengan huruf miring dan itupun hanya sedikit, namun di sini lah keunikannya. Narasi membuat saya lebih mampu berimajinasi, menyibukan diri dengan ingatan-ingatan yang mungkin serupa dengan narasi yang tertulis.

Pertama kali membaca, agak bingung dengan font tegak lurus serta font bercetak miring, apa bedanya selain karena pemisah antara dialog dan narasi? Namun akhirnya saya paham. Font tegak lurus untuk sudut perempuan namun tetap menggunakan POV orang ketiga tunggal. Dan sebaliknya, untuk font bercetak miring untuk sudut laki-laki dengan POV ke-tiga. Penulis seakan menjadi orang ketiga yang mengetahui segalanya.

Narasi yang indah dengan kalimat-kalimat puitis yang mudah dipahami membuat saya nyaman membacanya tanpa melewatkan satu katapun. Indah. Penjelasan mengenai wine, filosofi cinta serta hidup yang Winna tuangkan, mampu membuat saya terkagum-kagum.

"Menjadi dewasa berarti tidak memiliki pilihan. Hidup menjadi serentetan tanggung jawab yang harus diemban, baik suka maupun tidak, mau ataupun enggan." (Hal. 36)

Untuk ending, sama sekali tidak terpecahkan di awal. Dan begitu mengejutkan dan membuat galau. Dan di bagian epilog, saya akhirnya menemukan nama lelaki itu; Gabriel Linardi. Nama yang bagus ^^

Satu kutipan dari novel Unforgettable yang paling saya ingat, "Kita tidak akan pernah benar-benar berhenti mencintai seseorang. Kita hanya belajar untuk hidup tanpa mereka." (Hal. 63)

Winna Efendi's Book Reading Challenge 2014
Indonesian Romance Reading Challenge 2014




9 komentar:

  1. Pinjaaaaaamm.....
    eh yg aku udah bisa di follow :)

    BalasHapus
  2. Aku bahkan sama sekali belum menjamah karya2nya winna, penasaran banget sih sama gaya beceritanya dia :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. baca kak, rame lho.. apalagi karyanya yang Ai muehehehe xD

      Hapus
    2. Baca yang Unforgettable, bahasanya keren banget, Mot. Hehehe

      Hapus
  3. aku malah kurang suka sama buku ini, biasa aja, agak bosan dengan minim dialognya :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi awalnya sempet kaget, Kak, Loh ini kok dialognya sedikit wkwkw tapi karena suka kata-kata puitis jadi dihajar sampai halaman terkahir walhasil suka hehehe

      Hapus
  4. Hehehe sama juga, awalnya sempet bingung adaptasi gaya nulisnya. tapi karena suka yang puitis jadi sukaaaaa dan ketagihan pengen baca lagi lagi lagi :))

    BalasHapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^