Kamis, 06 Februari 2014

[Cerpen] Dan Gerimis Itu.....

Dan Gerimis Itu…
Karya: Deta Rainbow 

Impianmu itu terlalu muluk, Nak.
Aku selalu mengingatnya. Mengingat kalimat yang pernah dilontarkan ibuku saat aku menyatakan keinginanku padanya beberapa tahun silam. Memangnya mengapa? Setiap insan berhak memiliki mimpi, bukan? Bahkan jika itu terasa mustahil sekalipun.
Saat itu usiaku baru menginjak angka ke-15. Aku menyebutnya angka 15 yang berharga. Karena di angka itulah aku menemukan apa yang benar-benar aku inginkan yang menjadi obsesi utama dalam hidupku.  Sejak kecil, aku memang gemar sekali memperhatikan pesawat yang bergerak maju pada lintasannya, yang beradu padu dengan birunya langit cerah siang hari juga beriringan bersama angin yang berhembus kencang di atas sana. Aku memperhatikannya dengan seksama sambil sesekali membayangkan bahwa akulah sang pengemudi. Akulah yang menjadi pilot pesawat tersebut. Indah, begitulah. Keindahan yang tercipta dari impianku sendiri.


Aku pun mengingat dengan baik, bagaimana raut wajah ibu yang berubah seketika saat aku mengatakan padanya bahwa aku ingin sekali keliling dunia. Ibu hanya tersenyum masam. Sebuah senyuman yang aku artikan sebagai ketidakyakinan atas impianku.
Iya, kemarin Ifa—anak saya—bilang pengen keliling dunia.” Kata ibu keesokan harinya saat berbincang dengan para tetangga. Aku mendengar tawa dengan jelas di sela-sela perbincangan mereka. Bagaimana tidak? Mereka mengobrol tepat dalam ruangan di samping kamarku, hanya disekat oleh dinding pembatas yang tidak terlalu tebal.
“Anakmu itu ada-ada saja. Memangnya keliling dunia itu murah?” celetuk bu Rahmah kemudian. Aku mengenali suaranya, suara khas yang hanya dimiliki oleh dirinya sendiri. Sejujurnya, aku tak terlalu suka mendengar suara anehnya yang selalu bernada tinggi seperti orang marah. Sangat mengganggu, setidaknya bagiku.
“Tapi aku salut sama anakmu loh, Bu Nana. Dia teh sudah berani bermimpi.” Bu Trisna menimpali. Aku tersenyum lega saat itu, merasa bahwa masih ada yang berpihak padaku. Tak mengapa jika hanya bu Trisna yang mendukungku, aku tak keberatan. Detik berikutnya, aku semakin merapatkan kupingku pada dinding pembatas, anca-anca menunggu beberapa kalimat yang hedak keluar dari mulut wanita yang melahirkanku.
“Mimpi sih mimpi, Bu Tris, tapi harus realistis dong. Penghasilan Bu Nana dari ladang menjahit mana mungkin cukup untuk pergi keliling dunia.” Bu Rahmah lagi-lagi menciutkan harapku.
“Sudahlah Bu Rahmah, Bu Tris, tak usah berdebat. Apa yang dikatakan Bu Tris barusan memang benar, harusnya saya bangga pada Ifa juga pada mimpi-mimpinya tapi Bu Rahmah pun tak salah, saya hanya penjahit, penghasilan saya tak seberapa.
Aku tertegun saat ibu mulai angkat bicara. Saat itu aku tak mengerti maksud perkataannya. Ada dua makna yang tersirat. Di satu sisi ia mendukung impianku namun di sisi yang lain ia meragukannya. Entahlah, aku benar-benar tak pandai membaca pikiran orang, hingga saat ini.
“Ifa itu ingin menjadi pilot, Bu, Ia ingin sekali keliling dunia jika cita-citanya itu telah terlaksana. Entahlah, berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk menempuh pendidikan pilot.” Ibu meneruskan kalimatnya dan membuat detak jantungku benar-benar terasa berhenti.
Aku mulai memikirkan perbincangan antara ibu dengan bu Rahmah dan bu Tris. Ibu memang hanya seorang penjahit, lantas ada yang salah? Aku rasa mimpi itu milik siapa saja yang percaya, tak ada pengecualian dalam hal ini, apalagi dalam segi strata sosial. It doesn’t matter.
Aku memutuskan untuk memaksa ibu agar dirinya percaya, agar tak ada keraguan lagi dalam benaknya, agar dirinya mau meridhai setiap keinginanku tanpa perlu mengeluarkan biaya sedikitpun. Ibu hanya mendukungku saja, aku sudah begitu senang. Mungkin ada rejeki yang menantiku di sana, di suatu tempat yang belum bisa aku jamah saat ini. Mungkin suatu hari, aku yakin.
Ifa hanya ingin Ibu percaya, itu saja.” Aku yang pada saat itu baru berusia lima belas tahun tak yakin dengan kata-kata yang saat itu aku katakan pada ibu. Mungkin ibu hanya menganggapku main-main.
Aku memandang kedua mata ibu dengan seksama, ada harap terbesit dalam benakku saat itu. Aku benar-benar mengharapkan support dari ibu.
“Iya-iya, Ibu dukung keinginanmu, Fa.” Akhirnya ibu mengucapkan kalimat itu, kalimat yang sudah sejak lama ingin aku dengar. Meski masih terlihat raut ketidakpastian di wajah ibu, tapi aku tak terlalu mempermasalahkannya. Biar waktu yang akan menjawabnya. “Ibu sungguh-sungguh mengatakan hal ini, jangan kamu pikir Ibu bercanda. Ibu akan mendukung apapun yang menjadi keinginan Ifa, asalkan itu baik untuk masa depan Ifa. Tak perlu mengkhawatirkan masalah biaya, Ibu akan berusaha mencarinya. Anak Ibu hanya kamu satu-satunya, Ibu ingin kamu berhasil dan sukses, tidak bernasib sama seperti Ibu dan Bapakmu.” Lanjutnya lagi. Ternyata dugaanku salah besar. Aku tersenyum lega mendengarnya.
***
Sejak kecil, aku memang mengagumi hal-hal yang berbau petualangan. Sejak bapak untuk pertama kalinya memperkenalkanku pada alam.
Aku terlahir di tanah Sunda, tepatnya di Kabupaten Majalengka yang bisa dikatakan Kabupaten tersepi di Jawa Barat bahkan di Indonesia. Meskipun tak serupa Jakarta yang ramai atau Lombok yang terkenal dengan keindahan alamnya yang eksotis, namun aku sangat betah tinggal di sini. Sawah-sawah hijau masih terhampar luas di berbagai wilayah di Majalengka, sungai-sungai jernih, gunung-gunung hijau dan keindahan-keindahan alam lainnya yang selalu membuatku merasa nyaman. Adat Sunda masih sangat terpelihara meskipun ada beberapa daerah yang sudah sedikit terkontaminasi dengan budaya jawa Cirebon dan Indramayu. Meskipun begitu, tak pernah ada perpecahan diantara kami.
Potensi wisata di Majalengka memang tidak berkembang dengan baik namun itu tak menjadikan eksistensi Majalengka lenyap. Sebelum aku mengagumi keindahan alam di belahan bumi lain, aku sudah terlebih dahulu mencintai indahnya alam di tanah kelahiranku sendiri.
Sejak menginjak bangku pendidikan menengah petama, aku aktif dalam kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler sekolah yang berbau petualangan. Alasannya sederhana, karena aku cinta dan untuk menambah pengalaman agar kelak ketika aku hendak mengelilingi dunia, aku sudah mempunyai bekal yang cukup. Terlebih-lebih bekal keberanian.
***
Impian terbesarku adalah keliling dunia juga ingin menjadi seorang pilot. Menjelang tiga bulan pelaksanaan Ujian Nasional SMA, aku sudah mantap dengan pilihanku untuk meneruskan pendidikan di Sekolah Pilot. Waktu itu, aku belum mengatakan hal ini pada ibu, namun aku berharap kali ini ibu akan langsung mengijinkan tanpa perlu dibujuk atau dipaksa.
Aku mempunyai beberapa option Flying School yang hedak aku tuju setelah berbincang dengan guru Bahasa Inggris SMA-ku yang sebelumnya pernah mengenyam pendidikan pilot namun berhenti akibat alasan yang tak ingin ia ceritakan.
“Mungkin kamu perlu mencoba test Deraya Flying School di Jakarta. Setahu Bapak, itu bagus.” Pak Agus memberi saran. Aku hanya manggut-manggut tak jelas. Aku mengalami dilema akan hal ini. “Tapi jika ingin mencari Sekolah Pilot yang lebih dekat, kamu bisa mengikuti test di Bandung Pilot Academy.
“Bagaimana dengan biaya, Pak?” tanyaku cemas.
“Sekitar US $66 ribu atau Rp. 587,4 juta untuk dua belas bulan pendidikan. Mungkin belum berubah.”
Aku tertegun, dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Tiba-tiba aku merasa bahwa omongan ibu benar, impianku ini terlalu muluk. Aku memukul kepalaku pelan, merasa tak percaya bahwa aku hampir saja menyerah. Aku yakin pasti ada jalan.
“Kamu kenapa diam? Kaget? Wajar karena memang biaya di Sekolah Pilot itu tak murah.”
“Apa masih ada kesempatan untuk orang-orang kecil seperti aku, Pak?”
“Tentu ada, Fa.” Jawab pak Agus membuatku menghela napas lega. “Ada beasiswa yang disediakan oleh pemerintah daerah, tapi ya itu, kamu harus berhasil mengikuti testnya. Teman Bapak pun lolos seleksi beasiswa itu dan kebetulan dia itu perempuan, sama sepertimu. Bapak yakin, kamu akan berhasil juga, sukses.” Pak Agus memberiku semangat seraya menepuk bahuku pelan.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mengikuti test di Bandung Pilot Academy. Aku tak mengatakan perihal biaya pada ibu, aku khawatir ia enggan membubuhkan tanda tangannya di formulir pendaftaranku. Ada beberapa test yang harus aku ikuti, salah satunya test Bahasa Inggris yang merupakan subjek favoritku. Namun, aku memilih mengikuti English Course selama beberapa waktu untuk lebih memperdalam kemampuanku dalam bidang tersebut.
Aku merasa mantap dengan test kesehatan di hari pertama. Aku yakin, tubuhku sehat. Aku rutin berolahraga, aku pun selalu bangun sebelum pukul lima pagi. Setelah mengikuti test kesehatan, di hari berikutnya aku dihadapkan dengan test Bahasa Inggris. Aku terus berjuang demi mendapatkan Student Pilot Permit yang akan menghantarkanku ke gerbang impian yang selama ini aku idam-idamkan. Sebentar lagi, aku akan bisa melakukan manuver menggunakan pesawat jet dan aku membayangkan wajah ibu yang tersenyum kagum menyaksikan hal itu. Aku yakin akan berhasil, karena aku rasa aku bisa melewati tes dengan baik.
***
Hari ini adalah hari dimana aku akan mengetahui hasil tes beasiswa sekolah penerbangan yang aku ikuti.
“Nid, gimana? Ada namaku gak?” desakku pada Nidya, sahabat baikku yang saat ini tengah membantuku membuka website Bandung Pilot Academy untuk melihat hasil tes-ku.
“Bentar, Fa. Masih loading. Payah nih signalnya jelek banget.” Jawab Nidya kesal.
“Haha separah itukah? Kok bisa, ya? Padahal rumahmu kan deket tower.” Kataku lagi sambil tertawa.
“Itu bukan tower provider, Fa. Eh ini nih udah keluar.”
“Mana?” kataku tak sabar, mendekatkan wajahku pada layar laptop Nidya.
Tiba-tiba Nidya mendorong tubuhku keras.
“Kenapa, Nid? Ada namaku tidak?”
Aku melihat Nidya terdiam lalu menggeleng pelan. Dirinya langsung merengkuh tubuhku dan mengusap punggungku lembut. “Masih belum rejeki kamu, Fa. Sabar ya.”
Tanpa Nidya menyebutkan namaku tercantum atau tidak, aku sudah memahami maksudnya. Aku kecewa dan ingin menangis. Akhirnya, aku memutuskan menangis pada bahu Nidya. Nidya mengetahui hal itu, ia lalu mencoba menenangkanku.
“Kamu bisa ikut tes di sekolah penerbangan lain, Fa. Jangan nangis.” Katanya seraya menyeka air mataku.
Aku menggeleng. “Aku kapok, Nid. Aku gak akan ikut tes-tes lagi.”
Sekeras apapun kita berusaha dan berdo’a untuk segala sesuatu yang ingin kita capai, namun tetap saja Tuhan lah yang memiliki hak paling besar untuk menentukan takdir seorang manusia.
Hasil tes pun telah diumumkan dan aku tak melihat nama Latifa Rizkya tertera dalam daftar beasiswa pemerintah daerah. Aku gagal. Aku telah gagal.
Masih ada kesempatan lain.” Hibur Nidya lagi.
“Kamu gak usah menghiburku, Nid. Kamu gak tahu rasanya. Harusnya aku gak ngikutin kata-kata kamu buat optimis.
“Setiap orang pernah gagal, begitupun aku. Karena begitulah hidup, selalu ada dalam rangkaian yang bertolak belakang.” Kata Nidya lagi, membuat alisku terangkat secara tiba-tiba mencoba mencerna perkataannya.”Kamu hanya perlu mencoba dan mencobanya terus, bukan berputus asa seperti ini. Dan jangan salahkan aku, memangnya salah kalau aku kasih kamu semangat buat optimis? Kamu saja yang seharusnya menyiapkan mental buat gagal.” Lanjutnya sedikit marah, mungkin ia kesal karena aku salahkan.
“Aku tidak putus asa, hanya kecewa terhadap diriku sendiri.”
“Aku mengagumimu dalam hal apapun, Fa.” Aku terhentak mendengar perkataan Nidya.
***
Aku melangkahkan kakiku pelan menyusuri jalanan berdebu menuju rumahku sepulang dari rumah Nidya. Aku tak tahu, raut wajahku kini seperti apa. Aku berusaha menahan tangis di sepanjang jalan, tak ingin diketahui orang lain bahwa aku tengah bersedih akibat kegagalan. Pandanganku tak fokus saat itu. Sampai akhirnya, aku tersungkur dan tersadar.
Kini, aku mempercepat langkahku, ingin segera tiba di rumah dan menangis sejadi-jadinya tanpa perlu malu.
Sesampainya di rumah saat aku membuka pintu, aku melihat ibu tengah duduk di depan mesin jahitnya seraya menggulung benang dengan tenang. Raut wajahnya berseri, mungkin akan berbeda seratus delapan puluh derajat jika dibandingkan dengan raut wajahku saat itu.
“Assalamu’alaikum.” Kataku parau.
“Wa’alaikumussalam. Sudah pulang, Fa? Bagimana hasilnya? Kamu lolos?” Tanya ibu segera.
Aku tak menjawab apapun.
“Ada kejutan untuk Ibu?” Tanya Ibu lagi membuatku semakin ingin menangis.
Aku mematung dihadapan ibu untuk beberapa saat. Kutatap kedua matanya dengan seksama, berharap ia paham maksudku tanpa perlu aku jelaskan.
Ibu balas menatapku. Sementara itu, air mataku telah meniti membasahi kedua pipiku.
“Ifa gagal, Bu.” Kataku kemudian.
Kulihat ibu memejamkan matanya lalu menghela napas sejenak. Detik berikutnya, ia segera meraih tubuhku dan memeluknya. Hangat. Aku tersedu dalam pelukannya.
Hari itu, aku telah menangis dua kali dalam dekapan. Yang pertama Nidya, lalu ibuku sendiri. Aku benar-benar merasa kecewa terhadap diriku sendiri. Seharusnya, aku tak usah terlalu yakin seandainnya aku tahu bagaimana perihnya kegagalan. Aku gagal, aku telah gagal!
 “Alah, buat apa jadi pilot, kamu mendingan kerja di pabrik roti bekas Bapak kerja aja. Lumayan, sehari bisa sampai enam puluh ribu. Penghasilan Ifa sebulan mungkin akan cukup buat bantu-bantu biaya kontrakan rumah.” Celoteh bapakku nimbrung.
Bapak memang pernah bekerja sebagai karyawan mekanik di sebuah pabrik roti kering di Majalengka. Namun, sudah setahun ia tak lagi bekerja di sana karena terkena PHK. Usia bapak yang telah menginjak kepala empat dinilai sudah tidak produktif lagi dan pihak pabrik lebih memilih merekrut kembali karyawan-karyawan muda yang dinilai lebih cekatan dan fresh. Sementara karyawan-karyawan lama yang sudah berumur terpaksa diberhentikan, salah satunya adalah bapak.
Sejak saat itu, bapak menjadi pengangguran dan hingga detik ini, ia belum mendapatkan pekerjaan kembali.
Aku rasa, usaha yang ia lakukan untuk mendapat pekerjaan kembali hanya bernilai 1 dari 10. Bagaimana tidak? Yang ia lakukan hanya nongkrong di pos ronda bersama teman-temannya yang juga pengangguran, bermain kartu, merokok, dan sesekali meminum alkohol. Sejujurnya aku sudah sangat muak dengan kelakuan bapak. Rasanya aku ingin mengguruinya setiap saat.
“Nggak, Pak. Nasib Ifa harus lebih baik dari kita.” Lirih ibu.
Sebenarnya, aku tak pernah merasa gengsi untuk bekerja dimana pun, selama itu halal. Karena saat SMA pun aku sering kali membantu ibu berjualan nasi uduk di sekolah atau menjaga warung pak Mamat saat libur. Dan kalau pun sekarang aku harus bekerja di pabrik roti seperti yang bapak inginkan, aku mau-mau saja namun aku tak ingin membiarkan bapak diam dengan segala hal konyolnya sementara anak istrinya bekerja.
“Kita ini harus prihatin. Kita ini miskin, dari atasnya miskin, keturunan kita pun pasti miskin juga!” bentak bapak pada ibu membuatku terhentak.
Darahku kini benar-benar mendidih. Siapapun tak berhak membentak ibu seperti itu.
“Nasib itu bisa diperbaiki, Pak, asalkan kita mau berusaha.” Sambarku segera pada bapak.
“Usaha apa, Fa? Mereka gak akan pernah mau menghargai usahanya orang-orang kecil kayak kita ini.” Kata bapak membuatku ingin menyumpal mulutnya. Aku tak menyukai orang-orang pesimis macam bapak walaupun terkadang aku kerap kali pesimis dalam hal yang tak yakin bisa aku capai.
“Apapun! Bapak jangan sok tau, Pak. Bapak pikir siapa yang dibicarakan orang-orang setiap pagi ketika melihat jalan raya bersih dari daun-daun yang berserakan?” tanyaku pada bapak dengan nada yang agak tinggi. Ibu menatap ke arahku. Aku mengerti tatapannya. Ia menyuruhku untuk tetap berlaku sopan pada bapak. Tapi aku peduli apa? Pantaskah aku menghargai seorang bapak seperti dia?
“Memangnya siapa?”
“Tukang sapu jalanan. Bapak pikir mereka orang besar? Orang kaya? Bukan, Pak. Mereka orang kecil seperti yang Bapak bilang barusan, sama seperti kita. Mereka hanya berusaha dan bekerja keras, usaha mereka dihargai.” Jawabku seraya menyadari bahwa kini dadaku sudah kembang kempis.
“Dihargai karena mereka udah berjasa bersihin jalanan. Sekarang Bapak tanya, kamu punya jasa apa? Percuma, Fa. Sekarang mendingan kamu kerja bantuin orang tua buat bayar kontrakan jangan ngimpi terus!” jawab bapak nampak meremehkan ucapanku.
“Sudahlah, kalian gak usah berdebat. Gak enak kalo tetangga pada denger.” Ibu mencoba mencairkan suasana.
“Ah, bapak pusing lama-lama diem di rumah. Bu, ajarin anakmu ini realita biar gak terus-menerus tenggelam dalam mimpinya menjadi pilot itu.”
Aku menatap punggung bapak yang berjalan menuju pintu. Ia meraih kenop pitu, membukanya lalu membantingnya keras-keras dari luar. “KECUALI SATU, PEMABUK TAKKAN PERNAH BERHASIL, SAMPAI KAPANPUN!” Teriakku dari dalam, berharap bapak mendengarnya.
Ibu membungkam mulutnya. Matanya merah hampir menangis. Aku meraih tangan ibu lalu menciumnya. “Maafin Ifa, Ifa kalap.”
Ibu tak menjawab, terlihat bulir air bening menetes pada pipinya yang nampak sedikit keriput. Ibu menangis, ibuku menangis. Hal yang paling tak ingin aku lihat seumur hidupku. Terakhir kali aku melihatnya menangis ketika adik perempuanku meninggal akibat step di usianya yang baru menginjak tujuh bulan. Ketika ibu menangis, aku merasa seluruh tubuhku diguyur gerimis sepanjang malam, dingin dan gigil. Dan gerimis bagiku adalah air mata ibu yang menetes. Melihat ibu menangis lebih menyakitkan dari pada kehgagalan yang baru saja aku terima.  Ibu, hentikan! Aku tak sanggup melihatmu meneteskan air mata, maafkan aku.
 -Selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please, gimme your comment after finish reading my post^^