Selasa, 04 Februari 2014

Review 17 Years of Love Song

Judul Buku: 17 Years of Love Song
Pengarang: Orizuka
Penerbit: Puspa Storia, Grup Puspa Swara, Anggota Ikapi
Jumlah Halaman: 206 halaman
Keterangan: Re-read
Rating: 3/5

Blurb: Nana, saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu berada di sampingmu. Menemani sepimu. Menghapus air matamu. Menjadi kekuatanmu. Aku ingin menjagamu. Aku ingin kau hanya menyusahkanku dan bergantung padaku.

Begitulah Leo, penyuka baseball yang pendiam, berkata dalam hatinya. Nana, gadis berkursi roda yang ia temui di sebuah padang ilalang indah di belakang sekolahnya, telah membuat dirinya berubah. Dari anak kota yang meremehkan kondisi kampung yang ia tinggali, Leo justru menemukan segalanya di sana. Persahabatan, tanggung jawab, sampai cinta. Namun, saat-saat indah itu hanya sekejap. Musibah yang datang bertubi-tubi memisahkan Leo dengan penyemangat hidupnya, Nana. Lima tahun Leo sibuk menyelusuri jejak gadis itu tanpa lelah. Saat bertemu kembali, Leo sadar bahwa semuanya telah berubah. Apalagi, Leo kini sudah punya idaman lain bernama Raras. Berhasilkah Leo dan Nana merajut kembali kenangan-kenangan yang indah seperti dulu? Atau seseorang harus ada yang kalah?

Berkisah mengenai Leo, remaja SMA yang menyukai baseball. Leo yang pendiam ternyata bercita-cita menjadi atlit baseball profesional dan menjadi anggota timnas baseball Indonesia namun harapannya kandas ketika kedua orang tuanya bercerai dan Leo yang telah memutuskan untuk tinggal bersama ibunya yang berprofesi sebagai seorang dokter terpaksa harus meninggalkan Jakarta dan pindah rumah ke sebuah kampung terpencil di Purwakarta, Jawa Barat karena ibunya memutuskan untuk mengabdi di puskesmas di kampung tempat tinggalnya semasa kecil.

Sejak perpindahannya, Leo merasa jikalau hidupnya tidak lagi mengasikan karena ia mendapati fakta bahwa tempat tinggalnya saat itu benar-benar membuatnya muak. Ia harus mengayuh sepeda berpuluh-puluh kilometer agar sampai ke sekolah tempat ia belajar dan yang paling menyebalkannya lagi, di sana, Leo tidak menemukan ekstrakurikuler baseball. Hingga suatu hari, Leo bertemu dengan seorang gais berkursi roda bernama Nana di padang ilalang di sekolahnya. Sejak itulah Leo merasa bahwa Purwakarta tak seburuk yang ia kira. Hidupnya pun berubah.

Seakan berjalannya waktu, orang-orang di sekitar Nana mulai mengkhawatirkan kedekatan Leo dengan Nana. Mereka berfikir bahwa pria kota seperti Leo, memiliki hati yang tidak sebaik penampilan luarnya. Maka dari itu, mereka takut jikalau Leo hanya memanfaatkan keterbatasan Nana saja.

Leo pun nyatanya merasa khawatir jika suatu saat dirinya berpisah dengan Nana dan ini menjadi kenyataan ketika banyak sekali problema yang akhirnya memisahkan mereka selama lima tahun lamanya. Saat itu, Leo memutuskan untuk berkuliah di Jakarta. Di sana, ia dipertemukan dengan Raras. Di waktu yang bersamaan, Nana pun berada di Jakarta untuk menjalani pengobatan. Lalu bagaimana kelanjutan kisah ketiganya?

Novel kesekian Orizuka yang saya baca. Kurang terkesan dengan novel ini, entah kenapa, padahal sebelumnya selalu menyukai karya-karyanya. Bukan berarti novel ini jelek, hanya saja kurang sreg di hati saya hehe... Ceritanya khas remaja yang sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Saya salut untuk ide cerita yang diusung tentang seseorang yang berkursi roda, membuat saya banyak-banyak bersyukur saat membacanya.

Karakter Leo dalam novel ini sangat kuat, kuat sekali bahkan. Pendiam namun begitu romantis menghanyutkan. Ya Tuhan, jarang-jarang Orizuka bikin karakter utama yang seperti ini.

Novel ini cenderung seperti buku harian Leo, dimana terdapat narasi bercetak miring menggunakan POV Leo, lalu dijelaskan lebih detil dengan cerita flash back menggunakan POV orang ketiga. Sebenarnya, dengan hanya membaca POV bagian Leo-nya saja pembaca dapat mengetahui jalan cerita secara keseluruhan. Bagi saya, itu seolah-olah merupakan sebuah rangkuman hehehe...

Banyak yang mengatakan bahwa novel ini sedih dan tak jarang membuat mereka menangis, namun saya sama sekali tidak menitikan air mata. Oke, ceritanya memang menyedihkan tapi kurang mampu mengaduk-aduk emosi saya. Ceritanya pun tertebak dari awal namun penuturan dan gaya bahasa Orizuka begitu asik untuk diikuti, mengalir dinamis. Banyak sekali pesan moral yang bisa kita petik dari novel ini. So, read this novel ya :)


----------------------------------------------------------
Orizuka's Book Reading Challenge 2014
Indonesian Romance Reading Challenge 2014

10 komentar:

  1. Wah, ceritanya ada aroma baseball ya, adekku pasti suka nih kalo suka baca ini, soalnya dia atlet softball. Semoga kesampaian punya buku ini, gyahahaha... :

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Kak, aku do'ain mudah-mudahan kesampaian punya buku ini biar adiknya bisa baca juga :)

      Hapus
  2. Aku nangis ngga ya waktu baca novel ini? Aku lupa wkwk.

    BalasHapus
  3. aku ngrasa dulu pas awal-awal nulis Orizuka suka banget bikin cerita sedih, udah lama banget baca buku ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener banget tapi kesini-sininya lebih ke komedi gitu hehe

      Hapus
  4. Aku udah baca tapi lupa pesan moralnya apa aja, sedangkan aku punya tugas sebutin amanat dari novel yg pernah dibaca. Kak tolong bantu aku dong sebutin amanat2 dari novel ini:) makasih kak

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^