Jumat, 21 Februari 2014

Review Kei; Kutemukan Cinta di Tengah Perang

Judul Buku: Kei
Penulis: Erni Aladjai
Penerbit: GagasMedia, 2013
Jumlah Halaman: 250 halaman
ISBN: 979-780-649-9
Rating: 5/5

Blurb: Mari kuceritakan kisah sedih tentang kehilangan. Rasa sakit yang merupa serta perih yang menjejakkan duka. Namun, jangan terlalu bersedih, karena aku akan menceritakan pula tentang harapan. Tentang cinta yang tetap menyetia meski takdir hampir kehilangan pegangan.

Mari kuceritakan tentang orang-orang yang bertemu di bawah langit sewarna biru. Orang-orang yang memilih marah, lalu saling menorehkan luka. Juga kisah orang-orang yang memilih berjalan bersisian, dengan tangan tetap saling memegang.

Mari kuceritakan tentang marah, tentang sedih, tentang langit dan senja yang tak searah, juga tentang cinta yang selalu ada dalam tiap cerita.


Pemandangan yang terlihat setelah bunyi ledakan adalah suami menggendong mayat istrinya. Anak menggendong mayat bapaknya. Anak lelaki menngendong ibunya yang terluka. Pemuda menggendong kekasihnya -yang syok. Beberapa mayat bergelimpangan di jalan, tertutup daun pisang. (Halaman 27)

Secara garis besar, Kei berkisah mengenai kerusuhan antar agama islam dan kristen, antar suku putih dan suku merah di Maluku yang sedikit demi sedikit menyebar ke wilayah-wilayah di sekitarnya termasuk pulau Kei yang terkenal dengan pulau yang aman, tentram dan damai. Semula, warganya hidup dengan penuh toleransi, tak pandang agama dan etnis.

Telinga anak-anak pulau Kei yang semula terbiaisa mendengar bunyi ombak, tiba-tiba mengenal suara lain, suara ledakan, bunyi senapan dan jeritan. Desa-desa di Kei yang semula damai dengan keragaman agama, mendadak menjadi desa dengan dua identitas. Desa muslim dan desa kristen. Kelompok putih dan kelompok merah. (Halaman 33)

Atas dasar itulah, dua insan manusia yang berbeda agama dipertemukan di lokasi pengungsian. Adalah Namira Evav, perempuan muslim yang baik hati yang berasal dari Ds. Elaar yang terusir akibat adanya penyerangan ke desanya. Namira terpisah dari kedua orang tuanya  yang begitu ia sayangi. Selain Namira, ada juga Sala, pemuda protestan asal Watran yang memutuskan untuk pergi mengungsi setelah dirinya kehilangan ibu kandungnya yang meninggal terbunuh saat kerusuhan berlangsung.

Saat di pengungsian , datanglah Mery, sahabat Namira yang memberi kabar bahwa ayah Namira meninggal sedangkan ibunya tidak diketahui keberadaannya. Namira merasa sangat terpukul namun Sala selalu berusaha menguatkan Namira, benih-benih cinta keduanya pun mulai tumbuh hingga Sala ingin menikahi Namira.

Tak berselang lama, lokasi pengungsian Namira dan Sala pun diserang, Namira mengungsi di kampung Mery, sahabatnya namun itu tidak berlangsung lama karena Namira terbawa rombongan pengungsi lain hingga ke Makasar. Dirinya lalu bertemu dengan Kumala, gadis baik hati yang bersedia menampung Namira di rumahnya. Sedangkan Sala merasa tak karuan sejak ia datang ke kampung Mery untuk mencari Namira namun ternyata ia tak menemukan gadis yang dicintainya. Akhirnya, Sala mengikuti saran Edo untuk merantau ke Jakarta. Namun rupanya kehidupan di Jakarta tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya, lantas apa yang terjadi dengan Sala di Jakarta? Bagaimana hubungan Sala dengan Namira? Apakah keduanya akan dipertemukan kembali? So, baca sendiri kelanjutannya ya :)

Kesan pertama setelah membaca novel ini; Uwaaaa... saya suka banget! Novel yang menjadi pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012 ini benar-benar menghinoptis saya saat membacanya. Membaca sinopsis di belakang buku yang dimuat adalam catatan facebook GagasMedia untuk pertama kali, saya langsung suka dan bertekad untuk membelinya dan alhamdulillah termiliki.

Kerusuhan antar agama di Maluku benar-benar mencekam, atmosfernya begitu terasa dan membuat saya tegang saat membacanya. Sempat membaca review seseorang yang mengatakan bahwa novel ini membuat ngantuk dan ketika saya buktikan dengan membacanya sendiri, ternyata benar, untuk sepuluh halaman pertama saya merasa bosan, terlalu banyak deskripsi, tidak balance dengan dialog. Deskripsinya bertele-tele dan sangat rinci sekali, saya ingin sekali men-skipnya tetapi sudah bertekad untuk tidak melewatkan satu patah kata pun. Sempat ingin berhenti membacanya dan berkata dalam hati, "ini cerita mau dibawa kemana, sih?" tapi semakin saya melanjutkan membaca, semakin saya menemukan sesuatu yang menarik dari novel ini.

Kei tidak hanya menceritakan kisah cinta yang menye-menye namun juga syarat akan ilmu sejarah dan budaya terutama untuk Maluku khususnya pulau Kei. Banyak hal baru yang saya ketahui, benar-benar menambah pengetahuan saya akan budaya negara sendiri. Salut untuk ide ceritanya.

Karakter Sala yang begitu kuat, teguh pada pendirian dan penyayang terutama kepada wanita, dirinya juga selalu bersikap tenang, tidak mudah tersulut emosi karena ia selalu ingat ucapan mendiang ibunya, "Nak, kau tahu dalam ajaran adat Kei, satu-satunya alasan orang berperang atau berkelahi adalah untuk mempertahankan kehormatan kaum perempuan dan kedaulatan batas wilayah. Tolong jangan berkelahi lagi. Laki-laki yang benar-benar lelaki tak akan sembarang berkelahi." (Halaman 44)

Awalnya saya khawatir ketika kedua tokoh utama diceritakan meninggalkan Kei, Namira ke Makasar dan Sala ke Jakarta, saya khawatir jika ceritanya tidak akan semenarik saat berlatar tempat di Kei dengan kerusuhan. Namun, saya salah ternyata ceritanya tetap menarik dan sangat menarik. Menyajikan konflik yang masih berdasarkan kenyataan yang banyak dilakukan oleh orang-orang Maluku yang merantau ke kota besar, keren banget!

Intinya, saya begitu menyukai novel ini, menikmati cerita yang disajikan, kata demi kata, kelimat demi kalimat, paragraf demi paragraf aaaaah suka banget. :')

Orang yang meredakan keinginannya, bagai air yang reda di dalam lautan, walaupun diisi olehnya namun tak pernah meluap---orang yang demikian inilah yang menemukan kedamaian, bukan orang yang menuruti keinginan hatinya. (Halaman 37)

----------------------------------------------------------------------------------
Indonesian Romance Reading Challenge 2014


6 komentar:

  1. Ngga nyesel kan udah barter Kak? :p wkwk.

    BalasHapus
  2. Keliatannya seru nih novelnya, jadi ingin baca :)

    BalasHapus
  3. salah satu wishlist aku nih, lagi-lagi keduluan wkwkwkwk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi ini wishlist dari pertama info coming soon wkwk akhirnya kesampean juga punya buku ini

      Hapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^