Kamis, 06 Februari 2014

Review London; Angel

Judul buku: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia, 2013
Jumlah halaman: 327 halaman
ISBN: 979-780-653-7
Rating: 4/5

Blurb: Pembaca tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel 'Orange', 'Memori', dan 'Montase', membawa kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemuinya. Apakah perjalanannya kali ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
Editor
Bercerita mengenai Gilang yang sudah bersahabat dengan Ning selama belasan tahun dan selama itu juga Gilang memendam perasaannya terhadap gadis itu hingga Ning memutuskan untuk mengejar impiannya bekerja di London, Inggris. Setelah sekian lama, Gilang pun sepenuhnya menyadari bahwa ia merindukan Ning.

Berawal ketika ia pergi ke Bureau, sebuah pub di Jakarta yang menyediakan wiski. Ia terbawa suasana hingga mabuk bersama teman-temannya. Dalam keadaan mabuk, Gilang bertekad untuk menyusul Ning ke London. Dan benar saja, ia pun akhirnya benar-benar terbang ke ibu kota Inggris tersebut.

Gilang yang bermaksud memberi kejutan kepada Ning ternyata harus menuai kekecewaan karena ketika dirinya tiba di apartemen Ning, tetangga Ning menginformasikan bahwa Ning sudah beberapa hari tidak pulang. Ia pun akhirnya mencari hiburan dngan melihat London Eye, sebuah kincir raksasa yang bisa melihat keindahan London secara keseluruhan ketika menaikinya. Seketika itu, hujan pun turun dan secara mengejutkan, muncul lah seorang gadis berambut ikal keemasan lengkap dengan payung merahnya yang diberi julukan Goldilocks oleh Gilang yang membuat Gilang terpana karena ia benar-benar mempesona. Namun itu tidak berlangsung lama, karena pada saat hujan reda, Goldilocks menghilang entah kemana. Ia hanya meninggalkan payung merahnya.

Gilang bertekad untuk mengunjungi London dalam lima hari saja dan selama di sana, ia tinggal di sebuah penginapan milik Madam Ellis. Tak hanya mengenal Madam Ellis, Gilang pun bertemu dengan  Mister Lowesley, pemilik toko buku di seberang penginapan lalu Ed pekerja Edge dan Ayu, gadis asal Indonesia yang hobi mengoleksi buku-buku lama cetakan pertama. 

Akhirnya Gilang pun berhasil bertemu dengan Ning. Ketika ia hendak menyatakan perasaannya ternyata ia harus mendapati fakta bahwa Ning terlihat seperti tengah menyimpan kekaguman yang bukan hanya sekedar kekaguman terhadap seorang pria bernama Finn. Di saat itu lah Gilang semakin sering bertemu dengan si Goldulocks tentunya pada saat hujan turun. Lalu bagaimana kisah Gilang, Ning, Goldilocks dan orang-orang di sekitar Gilang? Baca aja ya....

Novel kedua Windry yang saya baca setelah Memori dan novel STPC kedua yang saya baca setelah Paris; Aline. Seperti Memori, narasinya begitu kuat dan dinamis. Berbobot, tak hanya diperuntukan untuk memperbanyak halaman. Semua narasinya bermakna. 

Ceritanya sedikit dipadupadankan dengan unsur fantasi, meskipun tidak terlalu kental dan Windry pandai sekali menemptakan kapan itu harus terjadi dan berakhir. Endingnya sesuai harapan wkwk tapi hanya sebatas harapan, saya tidak punya prakiraan apa-apa untuk ending. 

Suka sekali dengan kisah-kisah lain yang ditawarkan, seperti kisah cinta Mister Lowesley dengan Madam Ellis, aaah sweet sekali :) suka juga sama sifat teman-temannya Gilang yang walaupun ngasal tapi mereka care hehe apalagi seseorang yang Gilang juluki Hyde xD Konyol. Dan aku sangat menyukai karakter Ayu, melebihi Goldilocks :')

Novel ini pun cerdas, berbagi pengetahuan akan seni dan sastra dengan sangat apik dan detil. Penggambaran kota London yang baik meski tak bisa saya bayangkan sepenuhnya kecuali Big Ben dan London Eye hihi...

Kalimat favoritku dalam novel ini adalah kutiopan yang disebutkan oleh madam Ellis, "Semanis apa pun awalnya, cinta hanya meninggalkan luka. Ilusi, itulah cinta. Ilusi yang membutakan mata." (Halaman 132)

----------------------------------------------------
Indonesian Romance Reading Challenge






4 komentar:

  1. Itu serius namanya ning? Entah kenapa, aku kurang nemuin gregetnya bukunya sih saat baca sekilas review ini. Tapi tetep masih bikin penasaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya hehe kalo nyari pertimbangan meningan dari Goodreads aja jangan dari review-ku hehehe soalnya aku gak bisa bikin review hehe ada aja kelebihan atau kekurangan yang gak ketulis.

      Hapus
  2. Kak, sekarang jadi lebih aktif ngereview buku ya? Keren :)

    Aku udah lama gak baca novel, tai kayaknya novel ini boleh juga dibaca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya alhamdulillah, blognya jadi keurus lagi hehehe
      Iya ayo dibaca, De :)

      Hapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^