Rabu, 26 Maret 2014

[Cerpen] Teardrops in the Rain

Arimi
Dia berdiri di atas sana lagi. Di tempat yang masih bisa kujamah dengan penglihatanku. Sore ini, dia terlihat lebih santai dengan hoodie cokelat yang melekat pada tubuhnya yang kurus. Entah apa yang tengah dia tatap namun tatapannya tampak kosong dari kejauhan.

Hujan mulai turun membuat penglihatanku samar. Jalanan yang menjadi sekat antara tempatnya dan tempatku pun mulai basah. Aku tak berniat untuk menyudahi aktivitas favoritku dan masih memandanginya dari tempatku.



Aku baru saja menuliskan 'you make me fall deep'  pada kaca jendela berembun menggunakan jari telunjukku. Ada harap terlalu muluk di dalam dadaku. Menginginkan dia untuk membacanya namun itu terlalu mustahil.

Aku mengaguminya sejak lama. Sejak pertama kali memutuskan untuk duduk di shaf kedua paling kanan bangku kelasku. Sebuah spot nyaman, dimana aku bisa memandangi panorama luar dari balik jendela. Padanganku tak sengaja tertuju pada lantai dua Fakultas Teknik yang berada si seberang jalan. Dan aku melihatnya! Dia yang berdiri dengan rambut sedikit basah dan acak-acakan. Dia yang asik memukul-mukulkan tangannya pada besi penyangga gedung. Sejak hari itu hingga detik ini, aku tak pernah absen memperhatikannya dari balik jendela. Salah satu keuntunganku karena dia selalu berada di sana, tak pernah sehari pun lengang dari pandanganku.

Saat terik, kubisikan salam untuknya. Membiarkannya menyatu dengan kilauan cahaya surya yang juga menyinari tempatnya. Saat hujan, kulemparkan senyum agar melebur bersama butiran-butiran kristal yang juga dia lihat.

Satu buah pertanyaan retorik yang ingin sekali aku lemparkan padanya, “kamu, bisa merasakannya, kan?” Dan aku sudah mengetahui jawabannya sebelum aku bertanya. Aku hanya sedang meyakinkan diriku sendiri namun tetap saja terasa mustahil.

***
Rovalf
Ini merupakan hari ke sembilan belas aku berdiam diri di tempat ini tanpa melakukan kegiatan apa pun. Aku ralat―hari ke delapan belas―karena satu dari sembilan belas hari itu, aku lalui dengan sebuah tujuan.

Di hari pertama, aku berdiam diri di tempat ini untuk berteduh selepas melaksanakan mandat dari seseorang berhidung besar yang tak lain adalah dosenku. Suhu badanku saat itu sangat tinggi. Aku bisa saja menggigil hebat namun aku tahan sebisa mungkin. Aku melakukan banyak sekali gerakan seperti memukul-mukul besi penyangga persis seorang idiot agar getar tubuhku akibat dinginnya hujan bisa tersamarkan.

Di hari kedua dan seterusnya, aku berdiri tanpa tujuan. Aku yakin, tak ada seorang pun yang paham ketika aku mengatakan bahwa aku mencandu kegiatan ini.  Dan apa yang selalu aku lihat? Seorang gadis berkacamata di balik jendela yang setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu selalu berada di sana, di tempatnya, di seberangku.

Dia kerap kali menopangkan tangan kanannya pada dagu sambil sesekali membenarkan posisi kacamatanya yang merosot hingga ke batang hidungnya. Ada jarak di antara kami, namun aku masih bisa melihatnya.

Namun sore ini, hujan turun dengan intensitas yang cukup besar membuatnya terhalangi oleh tetes-tetes air yang menempel pada jendelanya dan membuatku ingin sekali menyibak tetesan air tersebut lalu kembali memandanginya dengan leluasa. Tapi tunggu, ia menjamah tetesan air itu dengan jari telunjuknya. Dia menuliskan sesuatu di sana! Aku akan menghampirinya, membaca tulisan tangannya. Membaca kata-kata yang ia tulis.

***
Arimi
Kecewa dan rasa sedih tumpah ruah menjadi satu saat ia tak lagi berada di tempatnya. Ia menghilang saat aku lengang sebentar saja karena rekan di sebelahku meminjam bolpointku. Aku mencoba berbesar hati karena aku percaya, aku masih bisa melihatnya esok hari.

Sesuatu menghampiri jendela di sebelahku dan membuatku begitu terkejut. Pria dengan hoodie cokelat itu menghampiriku dengan tubuh basah kuyup. Oh Tuhan… Aku bahkan sulit untuk mempercayainya.

Aku memberanikan diri memandanginya dari jarak yang sangat dekat namun tak bertahan lama karena aku terlampau gugup. Aku sudah nyaman memperhatikannya dari jauh, tidak seperti sekarang.
Ia melemparkan senyum ke arahku setelah membaca kalimat ‘you make me fall deep’ yang mulai memudar. Ia mencoba membalas tulisanku namun selalu terciprat hujan deras sehingga tak bisa terbaca namun aku masih mampu membaca gerakan tangannya, you make me fall deeper than I’ve done.

Ia segera berbalik dan berjalan menghampiri gerbang di hadapannya. Tak lama kemudian ia kembali menatapku dan sekali lagi melemparkan senyum manisnya ke arahku.

Namun waktu berjalan terlalu cepat karena beberapa menit kemudian, aku melihatnya tergeletak dengan cairan merah yang keluar dari mulutnya dan mengalir di jalanan bersatu dengan air hujan.
Dengan tubuh gemetar aku segera berlari untuk menghampirinya. Bertahanlah. 

***
Rovalf
Dafuq, apa yang baru saja menabrakku hingga aku tak memiliki daya sedikitpun untuk sekedar bangkit? Aku masih ingin melihatnya, menatap seringainya tapi benda besar sialan itu baru saja menabrakku dengan cukup keras. Kini, dadaku terasa sesak. Aku kesulitan mengambil napas dan aku dapat merasakan darah yang mengalir dari mulut dan hidungku juga belakang kepalaku.

Hari ini, untuk pertama kalinya aku bisa menatap paras cantiknya dari jarak yang sangat dekat. Dia terlihat sangat menawan dengan rambut hitam yang terurai sebahu juga kacamata berbingkai merah tua yang menghiasi wajah ovalnya. Dan aku sudah membaca tulisan yang tertulis pada kaca jendela berembun tersebut. Aku yakin, tulisan itu ditujukan padaku maka aku membalas tulisannya dengan tulus.

Kini, aku mendengar teriakan seseorang yang semakin mendekat ke arahku. Kucoba membelalakan kedua mataku untuk mencari tahu apakan ini benar-benar terjadi atau hanya halusinasiku saja. Dan sekali lagi kulihat wajahnya berada di atas wajahku. Aku senang, namun ia tak terlihat berseri seperti tadi. Aku dapat melihat air mata menetes bersama air hujan, membasahi kedua pipinya. Aku mohon, jangan menangis.

Dengan sekuat tenaga, aku mencoba menggerekan tangan kananku untuk menyeka air matanya. Ia balas menggenggam tanganku seraya mengatakan, “bertahanlah. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit.”

Dirinya lalu melepaskan genggamannya dan bersiap untuk berdiri, tampak seperti akan memohon pertolongan. Namun, aku menahannya dengan tenaga yang tersisa. Yang kubutuhkan saat ini hanya satu; dia bukan rumah sakit. Kugenggam tangannya sekali lagi dan aku mulai memejamkan mataku dengan damai. Suara terakhir yang dapat kudengar adalah isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Dia menangis di tengah hujan. Jangan menangis, sayang.

***
Arimi
I wish you're coming back to me again
And everything's the same like it used to be
I see the days go by and still I wonder why
I wonder why it has to be this way
Why can't I have you here just like it used to be
I don't know which way to choose
How can I find a way to go on
I don't know if i can go on without you

No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain
"TEARDROPS IN THE RAIN", CNBLUE
-Selesai-

Deta Rainbow
March, 25th 2014

Note: Cerpen ini dibuat ketika diskusi perkuliahan KNM tengah berlangsung dan hujan turun dengan sangat deras. Nama Arimi diambil dari merk minuman, Mirai, yang saya acak hurufnya. Sedangkan Rovalf diambil dari kata flavor yang saya balik ^^v. Kebetulan, minuman itu nangkring di bangku saya hehe... 




1 komentar:

Please, gimme your comment after finish reading my post^^