Sabtu, 15 Maret 2014

Review Melbourne; Rewind

Judul Buku: Melbourne; Rewind
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia, 2013 (Cetakan ketiga)
Jumlah Halaman: 328 Halaman
ISBN: 979-780-645-6
Rating: 3/5

Sinopsis Belakang Kaver:
Pembaca tersayang,
Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia.

Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain,
Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.

Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.

Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.

Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.

Enjoy the journey,
EDITOR


Buat gue, perasaan paling nggak enak sedunia adalah sesal. Apa pun yang lo lakukan, lo nggak akan bisa menekan tombol rewind untuk kembali ke momen saat segalanya berubah. Lo nggak akan bisa naik mesin waktu atau memutarbalikkan jarum jam untuk kembali ke masa itu, untuk memperbaiki kesalahan yang lo perbuat, atau mengembalikan keadaan seperti sebelumnya. - Max, halaman 122

Maximillian Prasetya, seseorang yang memiliki obsesi dan kecintaan maksimal terhadap cahaya akhirnya kembali ke Melbourne setelah kurang lebih lima tahun ia mengejar cita-citanya di tempat lain. Di sana ia bertemu dengan mantan kekasihnya bernama Laura, gadis yang menyukai lagi-lagu lama dan walkman yang pada saat itu terbilang kuno. Mereka kerap kali terlibat dalam obrolan manis seakan bernostalgia dengan apa yang pernah terjadi antara keduanya. Bagi Max, Laura seakan menjadi tempatnya kembali pulang. Ia sudah beberapa kali berpacaran dengan wanita lain paska putus dengan Laura, namun hanya gadis itulah yang selalu membayang-bayangi ingatannya.

Berbeda dengan Max, Laura justru tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa lagi paska berspisah dari Max hingga akhirnya pria itu kembali ke kehidupan Laura bersamaan dengan hadirnya Evan, seorang dokter hewan yang merupakan kekasih dari Cee, sahabat Laura. Mereka memiliki kegemaran dalam bidang yang sama, yakni sama-sama menyukai lagu-lagu lama yang jarang orang lain sukai. Dari situ lah, Laura akhirnya menaruh perasaan yang sama sekali tak bisa ia jabarkan. Baca kisah selengkapnya ya ^^

Buku kelima Winna yang saya baca setelah Remember When, Refrain dan Unforgettable dan Ai. Gaya bercerita Winna dalam novel ini serupa dengan Unforgettable meskipun tak keseluruhan sama. I mean, narasinya yang memorable dengan bahasa yang indah meski ditulis menggunakan POV orang pertama tunggal dengan kata ganti 'aku' untuk sudut pandang Laura dan 'gue' untuk sudut pandang Max.  

Konflik yang dimunculkan lebih ke konflik batin si tokoh utama mengenai masa lalu, jatuh cinta dan kehilangan. Sementara konflik antar tokoh sendiri tidak banyak dimunculkan namun ada beberapa part dimana itu menjadi ledakan dahsyat yang membuat cerita dalam novel ini lebih bagus. Dari awal, saya sudah dibuat penasaran dengan alasan mengapa Max dan Laura putus sementara mereka masih terlihat baik-baik saja dan welcome satu sama lain. Sempat gemas juga karena lama sekali untuk temukan jawabannya namun akhirnya terungkap menjelang akhir :")

Ada beberapa adegan favorit Max dan Laura salah satunya saat Laura sakit dan menelepon Max malam-malam. Aaaaah itu sweet banget. Juga adegan flashback dimana keduanya begadang di ruangan yang sama demi menyelesaikan buku ke-7 Harry Potter yang mereka baca. Yes, tak bisa dipungkiri, saya mendambakan pasangan yang demikian :)

Karakternya sangat kuat apalagi Laura yang berbeda dari cewek-cewek pada umumnya. Penggambaran latar Melbourne pun sangat baik, tidak hanya penjelasan yang terkesan tempelan tapi sangat terasa bahwa saya tengah berada di tempat yang sama dengan Laura karena dari awal membaca, saya menempatkan diri menjadi Laura muehehe. Btw, saya suka banget nama Laura, sederhana namun manis.

Bagus, hanya saja menurut saya, konfliknya kurang ditonjolkan jadi tidak memancing emosi naik turun seperti konflik di novel Remember When yang walaupun temanya sederhana dan membahas seputar dunia remaja namun berhasil membuat saya ngosngosan saking terbawa suasana hihi... Ngomong-ngomong, saya ingin sekali membaca Truth or Dare, karya Winna yang lain berduet dengan Yoana Dianika juga tak sabar menanti novel terbarunya, project SCHOOL GagasMedia.

------------------------------------3/5 stars (I liked it)-------------------------------
Winna Efendi's Book Reading Challenge 2014
Indonesian Romance Reading Challenge 2014

4 komentar:

  1. Serupa ama Unforgettable? Wuih..jadi tambah penasaran... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya yang diksinya memorable gitu kak hehe tapi nggak sejenis sih. Melbourne sedikit lebih ringan ^^

      Hapus
  2. Yaaaaaaa, emang pasangan dambaan banget Max-Laura itu :)

    BalasHapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^