Senin, 26 Mei 2014

Review Believe; Karena Cinta Aku Percaya


Judul buku: Believe
Penulis: Morra Quatro
Penerbit: GagasMedia, 2011 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman: 212 Hlm.
Rating: 5/5
Keterangan: Pinjam dari Nisa

Blurb:
Kalau bagimu merindukanku adalah hal yang berat, harusnya kau mencoba bagaimana caraku merindukanmu. Kau adalah matahari yang menghangatkan pagiku, dan bulan yang menerangi selama tidur malamku. Tak bosan aku merapalmu dalam doa-doaku, berusaha mengetuk hati Tuhan supaya berbaik hati mengirimkanmu untukku.

Tak perlulah kamu tahu berapa banyak air mata yang membasahi bantal saat khayalku terbawa dalam kenangan tentangmu. Dan, aku pun tak ingin kamu ikut sedih ketika tahu betapa dinginnya hari-hari tanpa senyummu....

Jadi, beri tahu aku, kapan kau akan kembali?Atau, haruskah aku lagi-lagi mengganggu Tuhan sampai Dia mengabulkan permintaanku?
Akhirnya kesampaian juga baca buku Believe setelah sebelumnya tuntas membaca Forgiven dan Notasi. Dan lagi-lagi, Morra mengeluarkan novel yang judulnya hanya terdiri dari satu kata tetapi saya suka, sederhana namun mewakili isi cerita secara keseluruhan.

Pertama, saya ingin bercerita sedikit. Saya pernah berbincang dengan rekan jauh saya di media sosial. Kami membahas mengenai novel Morra Quatro. Pada saat itu saya belum membaca Believe dan menanyakan pendapatnya mengenai Believe. Ia bilang, dari ketiga novel Morra yang telah terbit, hanya Believe yang sama sekali tak memiliki nyawa. Pada saat itu, saya hanya manggut-manggut karena beberapa kali mengintip goodreads pun, rating yang diperoleh Believe tidak sebesar Forgiven atau Notasi. Tapi, saya harus membuktikannya sendiri. Kini, saya bisa bilang bahwa saya memiliki penilaian lain, selera saya berbeda dengan mereka, Believe tak kalah mengagumkan dari nvel pertama dan ketiga Morra. 

Bercerita mengenai cinta yang dipisahkan oleh jarak dan waktu dimana Langit sang hero dan Biru yang bernama asli Layla, sang heroin berusaha mempertahankan apa yang seharusnya mereka miliki. Mereka berdua menaruh harapan penuh agar mereka  dapat dipertemukan kembali lantas mereka berjuang mengumpulkan ‘amin’ sebanyak-banyaknya karena mereka percaya, semakin banyak ‘amin’ yang terkumpul maka kesempatan akan terkabulnya keinginan mereka akan semakin besar.

“Kalau... kalau do’a kedapa Tuhan itu diamini dengan tulus oleh 40 orang saja, InsyaAllah akan diijabahkan, kan? Karena itu orang mengadakan istighasah, berdo’a bersama-sama....”

Menggunakan sudut pandang orang pertama dari Langit dan Biru secara bergantian. Menceritakan pengalaman dan kisah orang-orang terdekat mereka dimana dari setiap kisah memiliki benang merah yang menghubungkan kepada kisah cinta mereka berdua. Terus terang, saya menyukai cara bercerita Morra yang seperti ini. Meskipun banyak sekali tokoh yang diceritakan namun saya tidak merasa terganggu sama sekali karena kisah-kisah yang disuguhkan dari berbagai tokoh pun berbeda dan sangat memorable sekali.

Langit yang dituntut untuk menyelesaikan pendidikan S-2 di Univ. Al-Azhar, Kairo hingga ia menyandang gelar master seperti kakak-kakaknya yang lain, bercerita mengenai Aji, temannya yang berusaha menenangkan kekasihnya di bandara saat mereka hendak berpisah.

“Gue bakal gantung aja waktu di atas pohon. Biar dia berlalu sebagaimana mestinya. Melewati musim, melewati kehidupan...”

Lalu, ada kisah Aziz yang berhasil menjadi pemain sepak bola kebanggan kota karena ia tak pernah menanggalkan mimpinya dan cinta pun demikian bila dipertahankan dengan baik.

Ada bab ‘Catatan Biru tentang Faris’ dimana Biru mengisahkan Faris yang mencintainya namun Tuhan tak mengizinkan mereka bersama. Faris diambil oleh Tuhan terlebih dahulu. (FYI, Ini adalah bab favorit saya. Damn, Mbak Morra! Saya membaca bab ini di angkot ketika hendak berangkat kuliah dan saya menangis huhu untung lagi sepi penumpang.)

“Setelah kematian Faris, aku menyadari dengan penuih sesal bahwa aku nyaris begitu dekat dengan cinta yang tulus dari orang dengan jiwa sekuat itu. Aku sudah pernah berusaha menemukan itu lagi—dan berakhir pada orang yang salah. Kini, aku menemukannya pada dirimu, Langit. Aku tak ingin kehilangan untuk kali kedua.”

Dan ada kisah-kisah lainnya mengenai Jendra, Zie & Egit, Attar & Rein, Julian & Ayahnya Biru serta Rara, Wolf & Ibunya yang juga sangat mengharukan. 

Ciri khas Morra sekali dengan penuturan narasi yang indah, dengan kalimat yang sangat enak dibaca dan bahasa-bahasa romantis yang bertebaran. Mengambil beberapa latar tempat seperti Yogya, Jakarta, Bangka dan Kairo yang semuanya digambarkan dengan cukup apik. Terdapat banyak sekali typo namun saya masih bisa menikmati karena typo-nya masih tergolong minor error. Suka sekali dengan ending terbuka yang disajikan dari sudut pandang Medina (adik Langit) yang menceritakan tentang isi hati ibunya.

Recomended buat kalian pecinta fiksi berat yang membutuhkan konsentrasi tinggi khususnya kalian yang sedang LDR, kumpulkan 40 amin! Hihi ^^

-------------Indonesian Romance Reading Challenge 2014------------


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please, gimme your comment after finish reading my post^^