Selasa, 15 Juli 2014

Review Dongeng Semusim; Pada Suatu Cinta, Kisah Itu Pernah Ada

Judul Buku: Dongeng Semusim
Penulis: Sefryana Khairil
Penerbit: GagasMedia, 2009
Jumlah Halaman: 257 Hlm.
ISBN: 9797803694 
Rating: 2/5 stars

Blurb:
Saat Nabil dan Sarah masih 'sayang' dan 'cinta', semuanya berjalan begitu indah.

Ternyata, hidup menikah tidak semudah kelihatannya. Pernikahan membawa Sarah melihat sisi lain dari diri mereka berdua. Entah ke mana hilangnya Nabil Si Pelindung yang penuh kasih sayang itu. Lelaki yang sanggup membuat Sarah berpindah keyakinan demi bisa bersama hingga akhir usia. Entah lenyap ke mana kepribadian Nabil yang membuat Sarah yakin dia lah lelaki yang layak menjadi pemimpin bagi dirinya dan ayah dari anak-anaknya.

Sarah merasa diri mereka yang baru ini tak terlihat seperti dua orang yang saling mencintai. Mereka saling menyalahkan, saling menyakiti. Mereka seumpama dua orang asing yang berada di bawah satu atap. Dan perlahan, mereka bergerak ke arah yang berlawanan.
'Sayang' dan 'cinta' tak pernah cukup untuk mempertahankan pernikahan. Lalu, bagaimana caranya mempertahankan pernikahan yang seperti ini?

Ini cerita tentang Sarah, seorang kristiani yang memutuskan berpindah keyakinan menjadi seorang muslimah setelah ia memantapkan hati untuk menikah dengan Nabil, laki-laki muslim yang dicintainya.

Keputusan yang Sarah ambil ini ditentang keras oleh ayah kandungnya namun Sarah tidak ingin mundur, ia sudah mantap dengan pilihannya untuk memeluk islam dan meyakini bahwa ia akan mengarungin behtera rumah tangga yang bahagia dengan Nabil paska menikah nanti.

Namun rupanya, kehidupan berumah tangga tidak seperti yang Sarah duga sebelumnya. Setelah menikah, masalah pun satu persatu silih berdatangan. Di saat Sarah ingin sekali memiliki momongan, Nabil justru merasa belum siap dengan status ayah. Nabil masih ingin menikmati hidup yang sama seperti yang ia rasakan pada waktu sebelum menikah. Clubbing, hang out bersama teman-temannya, dsb.

Tak hanya itu, ketika Sarah mulai serius mempelajari agama islam pun Nabil seperti merasa tidak senang. Nabil kerap kali marah-marah tanpa alasan apalagi saat melihat istrinya menggunakan kerudung. Lantas mengapa? Temukan jawabannya di novel Dongeng Semusim :)

***
“Sinting, benar-benar sinting!” nih kata-kata yang sering sekali saya temukan dalam novel ini. Wkwk Nggak etis rasanya kalau saya compare dengan novel Mbak Sefry yang judulnya Sweet Nothings tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa saya jauh lebih menyukai Sweet Nothings daripada novel ini. Walaupun tema yang di angkat Mbak Sefry dalam Dongeng Semusim lebih berat.

Pertama, saya merasa bahwa penulis kurang total mengangkat isu pindah agama yang mana permasalahan ini sudah sangat complex. Ayahnya Sarah jelas-jelas menentang, tapi kurang digali lebih dalam lagi sehingga saya merasa kalau konflik ini hanya sebagai tempelan belaka, sorry to say.

Kedua, saya pun sejujurnya masih kurang paham dengan perubahan sikap Nabil setelah Sarah memplajari islam lebih dalam lagi ya walaupun dijelaskan tapi saya menginginkan alasan yang lebih kuat dan lebih bisa diterima *banyak maunya*

Ketiga, mengenai karakter, rasanya tidak ada karakter favorit dalam novel ini. Dan untuk tokoh Nabil, serius, menyebalkan sekali. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek, ngambek kok dikit-dikit wkwk buat Sarah lumayan ngerasa simpatik sih dengan perjuangan yang dia lakukan.

Alurnya rapi namun penggambaran setiap scene-nya terlalu singkat buat saya. Baru saja saya hendak masuk ke dalam sebuah scene eh tiba-tiba diakhiri dan berlanjut kepada scene serta sikon yang baru, kan kesel -_-

Yang saya suka adalah cara nulis Mbak Sefry yang mengalir dinamis. Gampang diikuti karena menggunakan kalimat sederhana yang mudah dicerna. :)

Finally, 2 of 3 stars for this book.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please, gimme your comment after finish reading my post^^