Rabu, 23 Juli 2014

Review Let Go; Setiap Cerita Punya Ruang Sendiri di Dalam Hati


Judul Buku: Let Go
Penulis: Windhy Puspitadewi
Penerbit: GagasMedia, 2009
Jumlah Halaman: 244 hal.
ISBN: 9797803821
Rating: 4/5

Blurb:
Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain. Selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat yang berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain. Dan Sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya.

Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan


“Satu ruangan dengan Zombie berlidah tajam, Ratu Salju, dan si cengeng penakut itu, entah kenapa bikin jarum jam terasa nggak bergerak ke mana pun.”

Berkisah mengenai Caraka Pamungkas atau yang biasa dipanggil Raka yang kerap kali membuat onar dan mencampuri urusan orang lain. Akibat onar yang ia buat, akhirnya ia mendapatkan hukuman yakni bergabung untuk mengurus mading sekolah dimana ia pada akhirnya mau tak mau harus lebih mengenal Nathan, Nadya dan Sarah yang tak lain merupakan rekan satu kelasnya yang pada awalnya tak pernah Raka hiraukan keberadaannya.

Semakin hari Raka semakin bisa beradaptasi dengan ketiganya bahkan ia satu-satunya orang di sekolah yang mengetahui alasan Nathan yang bersikap dingin. Selain itu, film juga menjadikan Raka dan Nadya semakin dekat. Keduanya merupakan movie addict sehingga tak jarang mereka sharing mengenai film. Raka juga baik terhadap semua orang, tak terkecuali Sarah yang membuat gadis itu menyukai Raka. Lantas, siapakah gadis yang benar-benar Raka suka? Bagimanakah hubungannya dengan Nathan? Baca sendiri ya hihihi…..
***

Novel Mbak Windhy pertama yang saya baca. Hihi *kemana aja lo?* Berniat baca novelnya setelah baca dua bab awal di e-book entah siapa yang ngetik dan jadiin e-book. Saya tertarik baca karena kesan pertama waktu baca dua bab itu seru! Pertama, seru karena karakternya yang kuat dan bermacam-macam kedua karena bahasa yang digunakan Mbak Windhy, semi baku gitu deh hehe aku suka. So, akhirnya berburu novelnya meski tergolong telat karena saya baru nyari novelnya di tahun 2014 sedangkan novel ini sendiri terbit tahun 2009. But, that’s better than never knew this book, yakan? *pembelaan*
Ini bakal jadi salah satu novel teenlit SMA favorit saya sepanjang jaman setelah Our Story-nya Orizuka yang akan saya ceritakan kepada anak cucu kelak hihi
Seperti yang sudah saya katakan di awal, Let Go memiliki karakter yang kuat dan tak mudah dilupakan. Caraka dengan sikap keponya dan kebaikannya, Nathan dengan kesinisannya, Nadya dengan kegalakannya dan Sarah dengan rasa malunya yang berlebihan. Semua karakter berbaur menciptakan sebuah keindahan dalam novel ini.

Bahasa yang Mbak Windhy gunakan ialah bahasa semi baku, tidak terlalu baku juga tidak terlalu gaul. Tapi mungkin kekurangannya adalah ketidakkonsistenan Mbak Windhy dalam menggunakan kata ganti orang kedua. Terkadang kau, terkadang kamu.

Tapi, di luar itu saya menyukai alur ceritanya meski endingnya sudah terbaca dari pertengahan. Dan oh ya, surat dari Nathan benar-benar mampu bikin air mata saya menetes. Hiksss…
Banyak sekali kalimat-kalimat yang menyentil dan saya suka, salah sekian diantaranya:

-       Impian itu seperi sayap. Dia membawamu ke berbagai tempat. Seseorang mencegah mimpimu, itu sama saja dengan memotong sayap burung. Burung itu memang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap sudah bukan burung lagi. Dan manusia tanpa mimpi sudah bukan manusia lagi. – Nadya

-       Sebenarnya, apa salahnya hebat dalam suatu bidang yang nggak berhubungan dengan angka? – Nathan

-       Aku baca buku karena aku suka, bukan karena aku mengharap suatu penilaian dari orang-orang di sekitar aku. Bukan karena aku ingin dianggap hebat atau pintar atau berpendidikan atau beradap Cuma karena udah baca sebuah karya sastra. - Caraka

Mengenal tokoh Caraka, sang penyuka Sejarah mengingatkan saya pada rekan satu SMA yang juga suka sejarah. Kebetulan, waktu baca novel ini, saya lagi kangen-kangennya sama dia (mudah-mudahan dia nggak baca). Sekarang lagi on progress membaca Seandainya dan mau berburu karya Mbak Windhy yang lain.

2 komentar:

Please, gimme your comment after finish reading my post^^