Kamis, 24 Juli 2014

Review Love Is...; Kalau Cinta Kenapa Ragu?

Judul Buku: Love Is...
Penulis: Navika Anggun
Penerbit: Noura Books
Jumlah Halaman: 220 Hal.
ISBN: 9786029498950
Rating: 2/5 Stars

Blurb:  
Yuki berusaha mengatur napas agar bisa menjelaskan kepadanya. Namun, suara perempuan, yang memberitahukan bahwa pesawat menuju Seoul akan segera berangkat, kembali terdengar. Setidaknya untuk beberapa menit saja Yuki ingin menjelaskan isi surat itu pada Satria.

Sayangnya itu tidak mungkin, sehingga Yuki hanya meminta Satria untuk membacanya saja. “Kakak harus janji baru baca ini kalau sampai di pesawat nanti! Jangan sekarang!” katanya masih terengah-engah.

Satria pun pergi. Tanpa kata-kata perpisahan yang sebenarnya ingin Yuki sampaikan panjang lebar. Hanya satu benda yang menjembatani perasaannya. Sebuah arti cinta yang tertulis di atas selembar kerta.

 
Yuki memiliki seorang sahabat bernama Satria yang sudah Yuki anggap sebagai kakak kandungnya sendiri namun tiba-tiba, Yuki menyadari ada perasaan berbeda saat Satria hendak berangkat ke Kore untuk mengenyam pendidikan S2-nya.

Yuki yang bingung mengekspresikan rasa takut kehilangannya, akhirnya hanya mampu marah-marah kepada Satria karena Satria tidak membicarakan perihal keberangkatannya ke Korea sejak awal. Yuki pun akhirnya menulis surat  kepada Satria dan ia berikan kepada pria itu di hari keberangkatannya ke Korea.

Satria tak pernah sekalipun menghubungi Yuki selama dirinya berada di Korea. Yuki yanag merasa tidak dianggap akhirnya mulai membuka hati kepada laki-laki lain. Adalah Revan yang Yuki pilih untuk menjadi pacarnya. Saat hubungan Yuki dan Revan berjalan, Satria pun pulang ke Indonesia. Lantas, bagaimanakah hubungan ketiganya? Baca sendiri ya...
***
Lagi-lagi tertipu oleh kaver dan testimoni buku ini :( kavernya lucu banget.. demi apapun saya suka! Inilah alasan mengapa saya tidak ragu untuk membeli buku ini. Congrats buat Fahmi Ilmansyah yang udah design kavernya.

Oke, novel ini saya selesaikan hanya dalam waktu 2,5jam saja, marathon nonstop. Selain karena tipis, bacaan dalam novel ini tidak butuh untuk dipikirkan, jadinya bacanya cepet gitu deh wkwk
Baca novel ini datar saja, tidak ada konflik yang memacu emosi. Penulis kayaknya belum lihai membangun emosi pembaca dengan tulisannya.

Setahu saya, cerita yang baik itu mengandung rising action, klimaks dan fallin action tapi bahkan saya kebingungan sepanjang baca novel ini. Saya terus-menerus bertanya di dalam hati, klimaksnya di bagian mana, ya? Karena sampai endingpun saya merasa bahwa ceritanya tetap saja datar, sedatar-datarnya, sorry to say.

Karakter tokoh juga tidak ada yang kuat, semuanya biasa saja kecuali fakta kalau Satria pintar. Tapi, untuk laki-laki yang tengah menempuh pendidikan S2, apa sikap Satria tidak terlalu kekanak-kanakan? Saya juga tidak menyukai karakter Yuki. Nggak jelas. Dari awal, ia sudah tahu kalau Satria berangkat ke Korea buat belajar tapi selepas Satria pergi, Yuki malah misuh-misuh seolah-olah Satria itu manusia paling jahat di matanya. OMG hallo -__-

Cara bercerita Mbak Navika seru, mengalir lancar hanya saja saya belum menemukan keunikan tersendiri tadi gaya penulisannya. ^^v


2 komentar:

  1. Ketipu sama cover, ya? Hahahaha... Nah, itulah kenapa aku nggak pernah mau cuma lihat cover. Terkadang, udah baca beberapa review di goodreads aja masih nggak puas sama buku yang udah di beli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak Dian, ini jadi pelajaran buat saya pribadi.
      Lain kali nggak boleh asal beli buku karena tergiur kaver unyu hehe...

      Hapus

Please, gimme your comment after finish reading my post^^